Rabu, 20 Oktober 2010

Absynthe Edisi #1: SAJAK



Lukai Aku
Rozi Kembara

lukai aku dengan seluruh keberangkatan
yang menumpahkan rindu

sedang di langit sekawanan burung
menjadikan senja sebagai kekal sarang

lalu apalagikah yang teramat memilukan
setelah sengatan kenangan

Tanah Serang, 2009 


Di Terminal
Zulkifli Songyanan

Dan waktu seperti melumuri perasaanku
Dengan kecemasan. Sedang dari arah
Paling gelisah, bocah-bocah penjaja kesedihan,
Antrian panjang kendaraan, seolah memintaku
Terlibat dalam kesabaran yang melelahkan.

Seperti ada yang tertinggal di antara jerit peluit
Dan papan selamat jalan. Sebuah bis beranjak
Ke selatan, ke suatu tempat di mana
Sebuah percakapan tak sempat
Kita rampungkan.

Rindu, katamu, akan memerlukan sekian banyak
Ruang tunggu. Namun aku mulai lupa akan hal itu.
Aku sudah terlalu jauh mencintaimu.

2009.

Dengan Langkah Damai dan Tanpa Gegas Aku Merujukmu
Irwan Sofwan

dengan langkah damai dan tanpa gegas
aku merujukmu
maka segala yang tampak menyeruak
ke tepi sajak

suara-suara  mengalir di antara detik yang rincik
dan musim menghijau dalam matamu yang kilau

kau yang kini terbangun dalam sajak-sajakku
ketika pagi menjelma sepasang kupu-kupu
terbang dan bermain dalam ingatanku

maka biarkan aku terus menulis puisi
memasuki kata-kata
menerjemahkan hatimu dengan seteguk embun
yang kuhimpun dari daun-daun


2009


Kumasuki Lagi Dingin Kotamu
Irwan Sofwan

di telapak tangan
hening dan lapang
kurebahkan wajahku

bagi mataku
juga tubuhku yang redup
tak ada yang lebih berarti selain denyut

ah, kumasuki lagi dingin kotamu

di mana aku hampir tak menemukan matahari
bahkan di langit-langit terdekatku
ia seolah sembunyi

gerimis datang berulang kali
meneteskan kembali ingatan-ingatanku padamu
pada senja yang mematikan bayang-bayang
mempertemukan kita pada lengang yang panjang

ah, kumasuki lagi dingin kotamu

malam berlubang
kulihat matamu mengambang
menjadi lampu-lampu pucat di jalan, mall, dan pertokoan
serta rumah-rumah yang kesepian

ke manakah deru lautan api?
ke manakah Sangkuriang melayarkan
ketulusan dan keberanian cintanya kepada Dayang Sumbi?

ah, kumasuki lagi dingin kotamu

di mana waktu seperti pohonan pinggir jalan
tenang dan kaku
melemparkan daunnya satu-satu


Bandung, 2009



BIODATA KONTRIBUTOR

Rozi Kembara. Lahir 27 Juni 1990 di Tasikmalaya. Puisi-puisinya dimuat sejumlah media massa dan antologi. Bergiat di komunitas rawarawa. Kini sedang belajar di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.
Zulkifli Songyanan. Lahir di Tasikmalaya 02 Juni 1990. Tercatat sebagai mahasiswa program studi Manajemen Pemasaran Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Bergiat bersama Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI.

Irwan Sofwan.  Lahir di Serang, Banten 24 Oktober 1981. Alumni Diksatrasia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Sejumlah tulisan dan sajak-sajaknya dipublikasi harian Pikiran Rakyat, Radar Banten, Tabloid Kaibon Banten, Fajar Banten, Antologi Puisi Candu Rindu (Penerbit Kubah Budaya 2009), dan Dari Batas Waktu Ke Perjalanan Kamar Sampai Kabar Dari Langit (Rumah Dunia 2006). Saat ini aktif sebagai salah seorang pengurus Kubah Budaya.


Buletin Absynthe menerima kiriman puisi, esei dan cerpen yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Silahkan kirimkan naskah anda ke komunitasrawarawa@yahoo.com. Bagi penulis yang karyanya dimuat, mohon maaf kami belum bisa menyediakan honorarium.Gak dibiayain Ford sih. Ha ha ha.

Absynthe Edisi #1: CERPEN

Greatest International Literary Biennale
Dea Anugrah

Alkisah, pada sebuah malam yang cerah—bulan perak yang sangat besar menggantung di langit yang terlalu bersih. Tak ada awan ataupun kabut yang menutupi sinarnya. Juga sinar bintang-bintang dan benda-benda angkasa lainnya—akan diadakan pesta sastra besar-besaran. Bertempat di sebuah kafe mewah yang menyediakan panggung mewah dan makanan-makanan serta minuman-minuman yang mewah pula. Dengan penampil, pembicara, peserta dan komentator dari berbagai negara. Internasional. Dahsyat. Luar biasa.

Menurut ketua panitia penyelenggara, Sunarto Selengek, acara sehebat ini belum pernah ada dalam sejarah pesta sastra di Indonesia. Dan karena itulah, panitia merasa perlu memberikan tajuk yang belum pernah ada dalam sejarah pesta sastra di Indonesia pula. Tajuk yang terkesan gagah namun tak begitu jelas asal-usulnya: Greatest International Literary Biennale.

Berbekal kartu pers butut, sepeda motor butut dan satu stel pakaiannya yang paling bagus namun butut juga, seorang wartawan koran Minggu Sore berangkat ke acara itu. Besar harapannya ia akan dibolehkan meliput oleh satpam yang menjaga agar acara tersebut tetap aman, kondusif, tentram dan terkendali. Besar harapannya agar tak bernasib sama dengan seorang penyair-tak-diundang yang diusir dari acara sebelumnya yang serupa (tapi tak sehebat ini, tentu saja). Ia, wartawan Minggu Sore yang berdedikasi tinggi itu, sekali lagi memastikan kerapihan penampilannya sebelum mengengkol motor.

Tibalah wartawan kita itu di tempat berlangsungnya acara tersebut. Di sana sudah ramai, kebanyakan yang hadir mengendarai mobil dan beberapa mengendarai sepeda motor. Namun dari kedua jenis kendaraan tersebut yang berada di parkiran, tak satupun yang bisa dikatakan mirip dengan kendaraan sang wartawan. Tapi sebagai wartawan yang berdedikasi tinggi, ia tak gentar! Hidup atau mati, ia akan pulang dan membawa berita untuk Lantip, redaktur koran tempatnya menggantung hidup. Begitulah yang terbaca dari roman mukanya. Penuh semangat. Heroik.

Ternyata kartu pers masih dianggap. Wartawan kita diizinkan meliput, meski dari jarak yang agak jauh.

Setelah beberapa kali pembacaan puisi oleh beberapa orang berbeda yang selalu disambut tepuk tangan meriah saat naik dan turun panggung, sampailah acara pada sesi diskusi. Wartawan kita kembali bersemangat. Instingnya mengatakan bahwa ia akan membawa pulang berita yang bagus dan berisi. “Jelaslah, ini kan acara dahsyat,” gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.

Seorang pembicara naik ke panggung dan mulai berbicara. Peserta yang kebagian tempat duduk di depan dan tengah banyak yang kelihatan mengangguk-angguk. Sepertinya mereka sepakat betul dengan apa yang dikemukakan oleh pembicara. Wartawan Minggu Sore kita kecewa. Mungkin karena berada jauh di belakang, di dekat pintu masuk, suara pembicara terdengar sayup-sayup saja di telinganya. Ya apa boleh buat, satpam tak mengizinkannya masuk terlalu jauh ke dalam. Selain karena ia bukan tamu undangan, kursi yang disediakan pun semuanya sudah terisi.

Di tengah kegalauan yang rasa-rasanya berlangsung teramat panjang itu, tiba-tiba terjadi sesuatu. Dari baris tengah, seseorang berdiri hendak mengajukan pertanyaan kepada pembicara. Sebuah pengeras suara diberikan kepadanya.

“Selamat malam semuanya. Nama saya Tendra, wartawan koran Minggu Pagi. Saya mau bertanya kepada Mas Narwin selaku pembicara. Oke. Emm. Nganu, Mas, saya seringkali bingung ketika membaca puisi. Saya seringkali ndak ngerti maksud puisinya itu lho. Ini saya yang bodoh atau penyairnya ya?”

Suaranya cempreng dan lantang. Entah karena suara atau pertanyaannya, hadirin-hadirat yang terhormat di kafe itu sontak terbahak-bahak. Termasuk peserta dari luar negeri yang tak paham bahasa Indonesia. Tentu saja muka Tendra yang wartawan Minggu Pagi itu memerah malu ditertawakan begitu. Tapi Wartawan Minggu Sore diam saja, ia tak merasa ada yang lucu dari pertanyaan rekannya sesama wartawan itu.

Bak seorang resi nan sakti, gerak tubuh Narwin Dawinta, sang pembicara, sanggup membuat semua hadirin terdiam kembali. Ia akan menjawab. Kali ini, sepertinya volume suara mic diperkeras, sehingga Wartawan Minggu Sore yang berada di dekat pintu masuk pun bisa mendengarkan deham sang pembicara dengan jelas.

“Begini, Bung Tendra. Singkatnya, sebuah puisi, bagaimanapun juga, memiliki tugas untuk menerangkan dirinya kepada pembaca. Nah, kalau pembaca malah tidak mengerti dan kebingungan, berarti puisi itulah yang gagal. Penyairnya yang bodoh, bukan pembaca. Sebagai contoh puisi-puisi yang berhasil, bacalah album puisi saya, Ginjal Tawon Selir. Terima kasih,” Jawab Narwin. Diiringi senyum khasnya.

Kebanyakan peserta kembali mengangguk-angguk sepakat. Sebagian malah sempat bertepuk tangan. Namun dengan cepat Tendra mengacungkan jarinya lagi. Kali ini wajahnya tampak kalem dan lembut. Karena mic masih berada di genggaman tangan kirinya, ia langsung berbicara. Kali ini suaranya pun terdengar kalem dan lembut.

“Tapi Mas Narwin, saya sudah baca Ginjal Tawon Selir. Tak satu puisi pun di dalamnya yang saya mengerti. Tak satupun lho, Mas. Mengalahkan buku-buku puisi lain yang pernah saya baca.”

Selesai bicara demikian, Tendra menyandang tasnya dan beranjak. Sepertinya ia akan pulang karena sudah mengumpulkan cukup bahan berita. Tendra berjalan menuju pintu. Tendra keluar. Peserta lain diam saja. Satpam diam saja. Senyap. Acara tiba-tiba jadi benar-benar senyap. Narwin Dawinta Sang Pembicara hanya bisa melongo. Di dekat pintu masuk, Wartawan Minggu Sore yang penuh dedikasi itu biru mukanya karena menahan tawa. Ia segera keluar untuk menyusul Tendra, sang wartawan Minggu Pagi. Dan tentu saja, untuk tertawa.


NB: Di hari kedua pelaksanaan Greatest International Literary Biennale yang internasional dan belum pernah ada dalam sejarah pesta sastra Indonesia itu, nyaris tak ada wartawan yang meliput. Setelah diselidiki musababnya, ternyata mereka berbondong-bondong pergi ke Sewon, Bantul, untuk mewawancarai Mbah Andika, seorang ahli pengobatan herbal. Termasuk Tendra, wartawan serba bisa Minggu Pagi dan kawan barunya, Wartawan Minggu Sore yang penuh dedikasi itu.


Dea Anugrah. Lahir di Pangkalpinang, Bangka Belitung, 27 Juni 1991. Tulisan-tulisannya dipublikasikan di antologi Suara-Suara Nurani dan Kalbu (2009), Sebilah Sayap Bidadari (2010), Teka-teki tentang Tubuh dan Kematian (2010) serta sejumlah koran, buletin, tabloid dan jurnal yang terbit di sejumlah kota di Indonesia. Juga di beberapa situs internet. Kuliah di Fakultas Filsafat UGM dan menetap di Yogyakarta. Buku kumpulan puisinya yang sudah terbit: Penyair (itu) Bodoh (2009). Bergiat di Komunitas rawarawa.


Buletin Absynthe menerima kiriman puisi, esei dan cerpen yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Silahkan kirimkan naskah anda ke komunitasrawarawa@yahoo.com. Bagi penulis yang karyanya dimuat, mohon maaf kami belum bisa menyediakan honorarium.Gak dibiayain Ford sih. Ha ha ha.

Absynthe Edisi #1: PENGANTAR REDAKSI

Harta Warisan, Ruang Eksistensi dan Absynthe


Suatu kali, ketika bepergian via kereta ekonomi, saya membaca sebuah berita kriminal di surat kabar yang saya beli di sana. Diberitakan, tiga orang bersaudara membunuh kakak sulungnya. Saya bergidik. “Soal macam apa yang dapat menyebabkan anak-anak satu kandungan saling membunuh?” tanya saya dalam hati. Sepintas wajah Thomas Hobbes membayang dalam benak saya. Dengan suaranya yang kasar, berat dan dalam, hantu Hobbes itu berbisik, “Manusia adalah serigala bagi sesamanya! ‘Homo Homini Lupus.’”

            “Tapi itu kan anda tulis ketika perang saudara terjadi di Inggris. Mungkin di sana dan saat itu pendapatmu  relevan, namun peristiwa yang diberitakan ini terjadi di negeri yang subur makmur, Tuan Hobbes, Tidak ada scarcity atawa kelangkaan sumber daya yang bisa menyebabkan mereka baku-hantam. Bahkan, kata orang-orang tua dulu, di bumi kami ini, cukup lempar batu dan kayu—asal tak diarahkan ke rumah orang—bisa jadi tanaman.”

            Kereta rongsok yang saya tumpangi berhenti, mempersilakan kereta lain yang lebih bagus dan mahal tarifnya jalan lebih dulu. Karena suara keriut rem tak dapat diredam, pecahlah lamunan saya, Hantu Hobbes hilang tak berbekas, padahal ia baru akan balik menanggapi. Saya pun kembali pada bacaan yang sempat saya tinggalkan gara-gara Hobbes.

            Saudara-saudara, ternyata penyebab tragedi itu adalah harta warisan! Kakak tertua dari empat bersaudara itu menginginkan harta warisan tersebut seutuhnya, atau paling tidak bagian yang lebih besar ketimbang yang lain. Saya yakin mereka semua mengerti matematika dasar, ketika satu dibagi empat, seharusnya masing-masing akan mendapat bagian ¼ atau 0,25. Bukan 1. Namun ternyata, si sulung yang serakah ingin dapat 1, atau paling tidak ½ untuk dirinya sendiri karena ia menurutnya, sebagai anak tertua, ia pantas mendapat bagian terbanyak. 

            Kini saya tidak sedang berada di kereta ekonomi atau membaca berita kriminal atau terlibat kasus perdata. Saya sedang berusaha menulis tentang ruang eksistensi dalam sastra Indonesia. Lalu apa hubungannya dengan cerita di atas?

***

            Eksistensi dan publikasi adalah dua hal yang berbeda, namun tak dapat dipisahkan. Publikasi—literer maupun non literer—mendatangkan eksistensi, dan eksistensi semakin lebar membuka ruang publikasi. Seorang penulis dan karyanya yang, misalnya, diklaim sebagai ‘pembaharu’ atau ‘memberontak terhadap konvensi masyarakat’ oleh pihak yang mempunyai otoritas akan dengan cepat meroket dan dapat tempat dalam ruang eksistensi. Entah dalam bentuk reputasi, popularitas atau yang lain. Lalu, dengan modal tersebut, pintu publikasi pun akan semakin terbuka untuknya. Bagi saya yang naif, hal ini terasa sangat aneh, bagaimana bisa hanya dengan kegencaran publikasi yang tak melulu didatangkan oleh teks karya, seorang penulis menjadi “besar?” malangnya, apabila ternyata si penulis tadi memang tak berdaya tanpa suntikan faktor luar-teksnya. Bayangkan apa yang terjadi seandainya ada seorang kritikus sastra yang punya reputasi besar, namun dalam tulisan-tulisannya—yang tak pernah ditolak media—sering kita temui argumen mentah, klaim sembrono, pseudo teori dan lain-lain. Kritikus itu tak cuma mempermalukan dirinya, tapi juga sedang menjerumuskan sastra Indonesia! Namun demikian, (nyaris) tak ada yang mempersoalkan hal tersebut. Sang kritikus gadungan tetap kokoh berdiri, bersama reputasi dan nama besarnya, tentu saja. Siapa berani mengusik (baca: mengangkat persoalan tersebut ke permukaan), akan digebug dengan tuduhan keji: TAK BISA BERKARYA, MAKA MENYEBARKAN FITNAH!

            Dalam situasi seperti itu, apalagi yang bisa kita harapkan? Publikasi-eksistensi-publikasi telah menjelma lingkaran setan. Hal ini bukan persoalan sepele. Publikasi yang seolah menjadi satu-satunya pintu masuk kedalam ruang eksistensi telah menggelembung begitu hebat, yang semula dan pada hakikatnya hanya merupakan salah satu efek menulis, seringkali, dengan sadar ataupun tidak, dianggap sebagai tujuan menulis. Dalam keadaan begitu, penulis rentan terjebak untuk terus mengejar publikasi, baik yang bersifat literer maupun non literer. Keduanya sama gawat. Penulis yang berusaha mati-matian memburu publikasi literer pada akhirnya akan terjerumus kedalam jurang pelacuran, dalam arti akan ‘menyesuaikan’ karyanya dengan selera media-media publikasi yang dianggap representatif, sekalipun selera itu sifatnya sangat subyektif dan tak berurusan dengan kualitas karya an sich.

Lebih-lebih jika mengejar publikasi non literer. Bukan lagi karya yang dilacurkan, melainkan diri dan ‘jalan kepengarangan’nya. Tentu hal ini berakibat buruk bagi si penulis, penggaliannya pada karya akan macet dan energinya akan terbuang sia-sia untuk mengejar hal yang sesungguhnya tidak esensial.

Kemudian, keadaan diperparah dengan adanya pihak yang menguasai dunia publikasi dalam sastra Indonesia. Maka tak usah heran apabila anda tidak bisa membedakan satu karya dengan yang lainnya di lembar-lembar media publikasi “utama.” Juga tidak usah bingung jika anda tak dapat membedakan sikap pengarang-pengarang “yang dapat tempat” yang satu dengan lainnya. Tak bisa tidak, kolaborasi antara “lingkaran setan” publikasi-eksistensi-publikasi dengan penguasaan ranah publikasi oleh pihak tertentu telah melahirkan penyeragaman. Baik yang sifatnya literer maupun non literer.
 
***

Peristiwa yang saya jadikan pembuka tulisan ini adalah analogi dari keadaan sastra Indonesia saat ini. Dimana terdapat pihak tertentu yang hendak menguasai milik bersama, tentu akan ada pihak lain yang menuntut keadilan. Apabila dalam kasus perebutan harta warisan di atas, pihak penuntut membunuh pihak yang mendominasi; dalam kasus sastra Indonesia, pihak penuntut bermaksud “membunuh” dominasi yang berlangsung.

Adalah Absynthe, sebuah media yang kali ini dicita-citakan sebagai instrumen komunitas sastra se-Indonesia untuk menuntut adanya keadilan dalam ruang publikasi sekaligus memutus rantai kesialan publikasi-eksistensi-publikasi tersebut. Absynthe memang bukan media pertama yang bercita-cita demikian. Di belakang, sudah bertumpuk bangkai para pendahulu yang gagal “mengembalikan” mayoritas pekerja sastra Indonesia ke “jalan yang benar” dan “menyembuhkan” sastra Indonesia itu sendiri. Tentu peluang Absynthe untuk gagal terbuka sangat lebar, kami—redaktur dan komunitas-komunitas yang tergabung—sadar betul akan hal itu. Namun, bukankah lebih baik melakukan kerja konkret dengan penuh kesungguhan ketimbang hanya memisuh-misuhi keadaan?





Buletin Absynthe menerima kiriman puisi, esei dan cerpen yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Silahkan kirimkan naskah anda ke komunitasrawarawa@yahoo.com. Bagi penulis yang karyanya dimuat, mohon maaf kami belum bisa menyediakan honorarium.Gak dibiayain Ford sih. Ha ha ha.