Rabu, 20 Oktober 2010

Absynthe Edisi #2: CERPEN

Nini Sang Pengoceh
 Moch Satrio Welang

Desa Sidhi Ucap seperti mati. Tak ada seorang pun yang bisa ditemui. Tak ada tawa anak - anak yang bermain senja. Tak juga canda gadis – gadis sungai yang kerap menggema di lereng gunung. Desa Sidhi Ucap benar -benar mati. Bungkam.  Seperti biasa senja bergegas lepas karena malam datang lekas. Pepohonan pun seraya mengerti, tak hendak menggemerisikkan daun, bersujud pada alam yang sedang berduka. 

Beberapa mil di utara, sedikit meninggalkan desa, sebuah telaga terbaring tenang di keremangan malam. Sesosok perempuan terduduk, bersenandung lirih, pedih. Ia sendiri. Usianya baru tiga puluh tahun, namun gurat wajah yang lelah tak mampu bersembunyi atau lari. Tangan kanannya membawa keranjang berisi bunga hutan, juga alang alang. Beberapa tanaman obat dan sedikit umbi – umbian. Perempuan yang bersenandung lirih, matanya menerawang ke ujung pepohonan dimana angan - angan bersarang. Ia senandungkan nada yang tak teratur, kadang meninggi dan begitu tipis. Sinis. Sisanya menyayat. Adakah malam ini seseorang datang, menjamah tubuhnya, memintal rambutnya dan jelajahi tiap inci matanya yang  tampak hitam legam. Muram. Sesekali ia mengambil kerikil kecil dan melemparnya ringan ke telaga. Genangannya merambat, melebar, semakin jauh kemudian lenyap. 

Perempuan di ujung telaga dengan mata legamnya, juga bibir keringnya, mendongeng lirih. Perlahan ia arungi ruang tergelap dalam ingatannya. Dan mulai bercerita sendiri. Seperti ribuan telinga yang ikhlas terpasang, walau dia tahu bahwa hanya batu, rerumputan dan telaga yang rela berbagi ruang dan kerinduan. 

“Oh Hyang Widhi, sungguh hidup hanyalah seuntai rambut , yang memanjang , tipis kemudian terserabut. Oh Dewa yang Agung, dimanakah kau sembunyikan keabadian dan keadilan? Aku hambamu yang malang ini, tak kuasa memetik gemintang. Hanya sunyi yang merangkulku tiap malam. Malam kerap datang tanpa bayang, malam yang menjadi suami sekaligus juga anakku.”

Wanita berambut  legam. Mulai berbisik pada kunang – kunang. Dari bibirnya teruntai  kisah.  Sebuah desa yang dikutuk langit, sebuah desa yang dulu sempat memupuknya menjadi bunga. Desa Sidhi Ucap.

“Pratni, cepat kau petik dan rangkai bunga - bunga ini sebelum layu dan lapuk. Ingat jangan sampai ada kelopak yang terbuang, semua itu uang?” ujar sang Nini kepada cucu semata wayangnya. Luh Pratni memiliki ‎​​‎mata bercahaya dan rambutnya legam. Usianya baru belasan saat itu, namun ia telah menjadi bunga para kumbang desa. Ialah yang  kerap memekarkan bunga, mewarnai langit dengan pelangi, menyapu angkasa dengan senja, dan menyemai bintang – bintang malam untuk dipersembahkan kepada penduduk desa. Burung - burung bernyanyi karenanya. Ikan dan rerumputan menari untuknya. Penduduk desa yakin dan percaya bahwa dimanapun Luh Pratni berada, segala kemurungan akan sirna. Segala kegundahan akan terobati.  Di sebuah gubuk kecil di ujung desa itulah, sang Nini dan Luh Pratni tinggal. Tidak seperti penduduk lain yang kebanyakan bertani, mereka mempertahankan hidup dari menjual bunga. Tentunya bunga yang dipelihara dengan cinta, walau bunga hutan sekalipun akan memancarkan cahaya. Di tangan Luh Pratni , bunga yang hampir mati terselamatkan. Di tangan Luh Pratni, rumput yang merana merasa bahagia. 

--- 

Suatu sore yang tak biasa, penduduk desa resah. Wabah penyakit datang. Bayi – bayi menguning dan kaku. Para manula tersumbat nafasnya. Para pejabat desa, ibu – ibu rumah tangga , dan lelaki sawah bergumam bahwa dewa telah murka seperti yang telah diramalkan sang  Nini. Sudah berpuluh tahun  Nininya itu mengoceh tentang bencana yang membuat bulu kuduk mereka berdiri. Diramalkannya  kengerian yang melanda. Kelaparan, kematian, dan bencana tiada henti. Tak ada yang percaya ocehan sang Nini. Penduduk desa mulai gerah akan ocehannya hingga mereka berdua dikucilkan dan terbuang di ujung telaga di antara bunga – bunga liar. 

Kini wabah misterius telah di depan mata. Semua kekuatan magis telah dikerahkan, namun tak kunjung meredakan kengerian. Tiga hari lalu, seorang ibu tercekik di sumur pemandian desa , tepat dua hari setelah tiga orang laki – laki ditemukan hanyut di parit dengan luka menganga di leher. Juga baru  siang tadi, bayi kecil kepala desa ditemukan terbujur kaku. Tubuhnya kuning membiru. Dukun – dukun desa tetangga berdatangan, hendak menolong. Mereka merapal mantra dan doa. Namun tak satu orang pun berhasil. Mereka malah raib tertelan bumi. 

Bukit Munduk, mungkin itulah muara malapetaka ini. Sudah menjadi dongeng turun temurun bahwa di bukit itu tertanam rahasia, yang setiap lidah tak mampu bercerita. Akankah ada kaitan antara Nini sang pengoceh dengan bukit itu? Apakah setiap korban yang berjatuhan adalah tumbal ? Sungguh tak ada yang tahu. Yang tertinggal hanyalah kesunyian menggila. Sang Nini terlihat berkeringat. Matanya liar menari dan bibirnya mengoceh tak berhenti. “ Ayo bakar dupa, bencana akan datang. Ini peringatan!” Sang Nini yang diambang ketidaksadaran terengah – engah, seperti baru mendaki gunung Agung. Seperti biasa Luh Pratni bergegas merebus air hangat, membubuhkan boreh agar Nininya sedikit tertolong.
Bertahun – tahun sang Nini mengoceh, namun tak satu pun penduduk desa mau percaya. Mereka menutup telinga rapat – rapat. Membungkam ingatan dan membiarkan keadaan berlalu begitu saja. Toh, tak terjadi apa – apa seperti yang diramalkan sang Nini. Bahwa malapetaka akan datang. Bahwa kegelapan akan mengarungi desa. Keadaan baik – baik saja. Pasar tetap saja ramai dan segala kegiatan warga berjalan seperti sedia kala. Namun kali ini berbeda. Seminggu lalu, dua keluarga berduka karena anak - anak mereka terjerat tali layangan bebe yang mereka patok sendiri di halaman rumah. Empat hari sebelumnya seorang lelaki berperut buncit, terpenggal kepalanya sehabis menonton layar tancap. Ususnya terburai. Celananya penuh darah.

Senja merayap cepat. Gelap mengintai menyergap desa yang kini berduka. Akankah ini ramalan sang Nini ? Inikah bencana yang sering ia ocehkan? Warga bersikeras tidak mau percaya, namun mereka tak sanggup menipu diri, bahwa mayat – mayat telah menggunung, bahwa darah menggenang dimana-mana , di parit, di sumur, di selokan, di kendi – kendi tempat air minum dan di mata yang liar , yang takut maut menjemput. Saat ini penduduk desa berkumpul, ramai berdebat. Sebuah keresahan masal yang akhirnya berujung pada keputusan bulat. Luh Pratni dan Nininya harus diusir. Mereka dibuang ke utara, menjauh dari Bukit Munduk. Di sebuah telaga yang jarang dijamah. Telaga yang terlentang malas berbincang. 

Namun anehnya, selepas kepergian Luh Pratni dan Nininya, wabah penyakit di desa itu tak kunjung sirna. Malapetaka mengintip di setiap dinding rumah, di setiap nafas yang dihembuskan, disetiap keringat yang bertetesan. Mata penduduk meliar, berkilat tajam, menusuk. Sesungguhnya mereka amat letih. Bermain petak umpet dengan pisau dewa maut. Tubuh mereka mengurus drastis, tinggal tulang dan kecemasan yang maha hebat. Dari jarak bermil – mil, mereka membawa obor menuju ujung telaga, kediaman Nini dan Luh  Pratni. 

“ Hai Nenek busuk, keluarlah kau dari gubuk reyotmu itu. Atau akan kami bakar sekarang juga!”

“ Lihat apa yang kau lakukan? Kami kehilangan anak – anak kami, juga istri dan suami suami kami!”

Dengan paksa mereka mendobrak pintu gubuk sang Nini. Luh Pratni yang masih belia menangis ketakukan. Sang Nini terperangah. Tangan – tangan kasar menjambak rambut putihnya. Mendorong tubuh rentanya tersungkur di halaman.

 “ Hai Nini Bangsat, lihat karena ocehanmu bertahun – tahun, desa ini jadi benar - benar tertimpa bencana. Kau harus bertanggung jawab. Cepat potong lidahnya!”

Secara membabi buta, mereka memegang tangan dan kaki sang Nini yang meronta – ronta dan tak henti mengoceh,” Ini kutukan! Cepatlah kalian bakar dupa. Sungguh ini kutukan!” Namun tak ada yang mendengar. Mereka beramai - ramai memotong lidah Nini Luh Pratni, hingga putus mengenaskan. Lidah yang dianggap sumber malapetaka. Lidah yang meresahkan warga selama bertahun – tahun. Lidah yang karena ucapannya, kengerian melanda desa. Lidah itu kini telah terpotong. Habis. 

Luh Pratni yang masih belia, bersimbah darah memeluk Nininya yang tersengal-sengal menahan perih. Penduduk merasa puas. Mereka seakan terbebas dari maut. Beberapa diantara mereka menggelar pesta kegembiraan atas berakhirnya drama menakutkan yang menghantui hidup mereka selama beberapa tahun ini. Beberapa hari setelah tragedi itu, sang Nini meninggal dunia. Luh Pratni sungguh terguncang. Tak ada lagi kupu - kupu di matanya. Senyum mungil yang dulu bertabur di wajahnya sirna.  Dia mengubur sang Nini tepat di ujung telaga. Ditanaminya bunga liar. Luh Pratni yang masih kecil menjelma dewasa. Dia tahu bahwa apa yang diocehkan Nininya adalah kebenaran. Dia mengerti situasi dimana penduduk desa bertabiat aneh. Para wanitanya gemar bergunjing dan melakukan seks bebas dengan binatang. Sedangkan para lelaki tua sibuk menegak tuak , menghisap payudara anak – anak gadis , merampas hak orang lain, berjudi dan juga korupsi. Anak - anak lelaki gemar  sabung ayam dan tiduri wanita setengah baya yang ditinggal suami – suami berjudi. Perzinahan dan pencurian dimana - mana. Bukit Munduklah tempat mereka melakukan aborsi. Mereka buta. Tak ada yang membakar dupa. Tak ada pura. Hati yang gelap gulita.

Dan malam itu, Luh Pratni memegang keranjang. Memetik bunga hutan dan rerumputan. Bergumam lirih kepada kunang – kunang. Matanya menetes mengalun, diiringi nafasnya yang berat mengayun. Di atas gundukan tanah di ujung telaga, ia rangkai bunga dan cinta. Matanya yang legam adalah misteri malam. Sejak sang Nini meninggal, Desa Sidhi Ucap menjadi sunyi. Tak ada lagi kengerian. Penduduk desa berwajah muram. Mata mereka hampa. Tak ada yang bicara. Lidah mereka semua, terpotong habis.


Moch Satrio Welang. Penulis muda yang kini menetap di Bali. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media yang terbit di Indonesia. Mengelola Komunitas Sastra Welang di Denpasar.

Absynthe Edisi #2: CERPEN

Deco-Genesis
Langgeng Prima Anggradinata

            Air surut setelah banjir merendam lebih dari tiga abad. Lambung sebuah perahu terdampar di sebuah bukit. Orang-orang turun satu persatu dari dek. Wajah mereka. Sulit menggambarkan wajah mereka.  Wajah mereka lelah dengan pipi yang tirus, mata yang tak menunjukan hidup, hidung yang malas menghirup harap, dan kantung mata yang nyaris jatuh. Begitu pula dengan binatang-binatang yang mereka bawa di perahu itu. Sebenarnya, mereka lebih memilih mati.

            Umur yang panjang telah dianugerahkan pada mereka. Sedang, tak ada satupun yang bertambah dari mereka sebagai anak-anak. Seorang lelaki tua masih di palka. Ia berdiri. Lantai perahu mengeratkan kakinya, seolah ia tak boleh beranjak darimanapun. Ia tak tahu harus berbuat apa. Sebagai pimpinan dari orang-orang itu, tentu ia harus memutuskan apa yang selanjutnya mereka perbuat. Tapi ia diam. Sementara, orang-orang telah berkumpul di pucuk bukit dan menoleh kepada lelaki tua itu. Lelaki tua itu juga menatap. Kemudian, ia turun juga dari palka perahu.

                Ia, lelaki tua itu naik sebuah batu koral besar di pucuk bukit. Ia mengacungkan tangannya, membangkitkan telunjuknya, mengarahkan pada langit. Dengan wajah yang percaya ia menunjuk langit yang terang. Orang-orang melihatnya aneh. Mata mereka memincing, masih tetap tertuju pada tubuh lelaki tua itu. Mereka tak melihat apa yang lelaki tua tunjuk. Tangan kurus yang menunjuk ke langit itu lambat-laun turun, seraya dengan wajah yang kembali redup.

            Ia, lelaki tua itu berjalan membelah kerumunan kelompoknya. Ia terseok-seok. Terdengar juga bunyi yang lahir dari batu yang saling membentur akibat kaki lelaki tua itu. Jalannya terserat-seret seolah sesuatu yang berat menariknya dari belakang. Orang-orang melihatnya, sebagian lagi menunduk. Kulit mereka kering mirip urat-urat bukit yang pias di kejauhan. Mereka tak lagi melihat lelaki tua itu tapi saling menatap satu sama lain. Juga tak saling bicara. Juga tak saling mengisyaratkan sesuatu selain perasaan paling musyrik dalam dirinya masing-masing. 

            Lelaki tua itu berhenti dan bersandar pada batu yang lain. Mengambil, menggenggam kerikil dan menjatuhkannya dengan alami. Angin membawa sebagian batu yang lebih ringan dan sebagian lagi yang lebih berat hanya terjatuh begitu saja dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia sudah lama tak bicara tapi sebenarnya sedang berbicara melalui tindak tanduknya yang sulit diterjemahkan. 

            Orang-orang itu kembali melihatnya aneh. Gerak dan gerat wajahnya seakan ingin meninggalkan lelaki tua itu. Perasaan besar tentang keputusasaan telah membawa mereka pada kematian. Tuhan tak berdiam lagi di rapuh dada mereka. Namun, lelaki tua itu masih saja percaya bahwa Tuhan telah menyelamatkan mereka pada sebuah bencana besar. Hanya mereka yang selamat. Sebab hanya mereka yang percaya pada Tuhan. Hanya mereka yang percaya pada Tuhan tepat tiga abad yang lalu. Hari ini, barangkali tidak untuk mereka. 

            Lelaki tua itu mengetuk lambung perahu yang berlumut. Mengetuk lambung itu untuk meyakinkan pada orang-orang  bahwa Tuhan masih menciptakan suara untuk mereka dengar. Kemudian, orang-orang menambah kerut dikeningnya membuat mereka menjadi lebih usia. Seseorang dari mereka menepuk bibirnya dan menunjuk lelaki tua itu. Ia mengisyaratkan mengapa lelaki tua itu tak bicara pada Tuhannya untuk memohon agar penderitaan lekas lepas.

            Lelaki tua itu menggelengkan kepalanya hingga rambutnya yang jarang dan abu-abu itu terlepas barang empat helai dan jatuh kesebagaian tanah. Ia tetap tak mau bicara. Tak mungkin suaranya telah habis. Atau mungkin ia juga tak yakin. Tapi ia yakin bahwa Tuhan telah menyelamatkan mereka. Dan mereka adalah kaum yang beruntung. Kaum yang satu-satunya selamat atas bencana besar itu, meski kaumnya tak yakin bahwa mereka satu-satunya yang selamat sebab daratan lebih luas dari kepala mereka. Mereka yakin bahwa manusia lebih banyak dari debu yang mengerak di kulit mereka. 

Tapi lelaki tua itu tetap bersikukuh dengan keselamatan yang diberikan pada lelaki tua dan kaumnya itu. Dan itulah anugerah yang nilainya lebih dari sekedar umur mereka yang memanjang. Atau umur yang panjang adalah petaka bagi mereka!

**

            Sebuah kota kecil yang jauh. Bukit-bukit putih meriung kota itu. Dan langit melulu legam mirip malam. Jalan-jalan terbuat dari logam. Ada juga rumah-rumah berbentuk kubus. Ranting pohon terbuat dari kawat. Daunnya terbuat dari lempeng kaleng. Namun tetap berbuah dan tetap dapat disantap sebagai baterai. 

Orang-orang berbaju logam mirip kaleng sarden. Akurium kering tanpa air menutup kepala mereka. Sebuah tabung tersimpan di punggungnya masing-masing. Mereka mengambang seperti berenang. Tapi kadang berpijak. Tapi hanya sebentar kemudian kembali mengambang mirip jalan kanguru. Tapi juga tidak secepat itu. Sungguh lambat. Sungguh lambat gerak mereka.

Umur yang panjang telah dianugerahkan pada mereka. Mereka memiliki anak-anak yang kemudian dianggapnya sebagai keturunan. Anak-anak mereka terbuat dari kaleng tapi tak dapat bicara atau menangis. Mereka lebih mirip alat penanak nasi eleltronik atau kompor minyak. Juga, mereka tak bisa bergerak. Diam. Sungguh tak bergerak. Tapi sungguh, orang-orang tubuh kaleng sangat menyayangi mereka. Seseorang mengambang jauh lebih tinggi dari yang lain. Tangannya diangkat dan menunjuk sebuah benda dikejauhan. Sebuah planet. Bulat dan biru. Ada juga bercak hijau tapi nyaris kesemuanya biru.

Nyaris kesemuanya biru. Dahulu setelah mereka meninggalkan benda itu dan menetap di sana, mereka melihat planet itu berwarna biru seluruh tapi sedikit samar oleh bercak putih. Sekarang mereka melihat planet itu berbercak hijau. Barangkali, banjir mereda dan menciptakan daratan, mereka bicara itu dalam hati.

**

Lelaki tua itu kini duduk bersila di atas palka. Ia memanggil-manggil Tuhan dalam hatinya. Entah telah ribuan kali atau lebih ia melakukan itu. Kali ini, ia sungguh berkhusuk memahami Tuhannya. Amat meyakini Tuhan selalu bersamanya. Begitulah ia bersyukur pada Tuhan yang telah menyelamatkannya, menyelamatkan mereka dan meyakini tak satupun selain mereka yang selamat.

 Sungguh lelaki tua itu kini duduk berdiam, sendiri. Ia mengasing dari orang-orang tapi sesungguhnya ia yang ditinggalkan oleh orang-orang itu. Orang-orang itu meninggalkan si lelaki tua. Mereka menyebar tanpa arah yang mereka yakini. Mereka hanya meyakini bahwa arah yang mereka tuju akan membuat mereka berubah. Barangkali, mereka tahu bahwa di arah itu kulit mereka akan menguning atau jauh lebih coklat. Di arah yang baru mata mereka akan menyipit atau berubah biru bola matanya. Di arah lain kelak rambut mereka akan bergelombang atau memirang. Dan kelak mereka akan berbicara dengan bahasa yang lain bahkan punya Tuhan masing-masing.

Lelaki tua itu telah membiarkan derit pintu yang bergerak, kibar bendera yang mengabarkan arah angin, dan gerak orang-orang yang mejauh di kejauhan. Ia sungguh tak peduli lagi dengan orang-orang yang tak percaya, dengan orang-orang yang menistakan dirinya sendiri. Matahari menyalakan kesunyian yang mendengung di daun telinga lelaki tua itu. Menerangkan betapa sendirinya ia. Kesendirian telah meyakinkan ia dengan Tuhan. Tuhan nyaris mendekat pada dirinya. Dan langit membuka segala jalan bagi dirinya untuk menuju Tuhan.

Lelaki tua itu telah membiarkan getir keringatnya jatuh ke dada dan meyakini bahwa keringatnya itu adalah Tuhan. Ia membiarkan angin kembali melepas rambutnya untuk kesekian sebagai bagian dari Tuhan. Dan angin semakin gemuruh. Angin memusing di lembah, di pusat bukit-bukit koral. Angin sebenarnya sedang menyapu matanya yang terpejam untuk segera membuka, untuk segera bangun dari tapanya yang angkuh. Debu dari sisik koral mengetuk kelopak matanya untuk terjaga.

Bunyi bising menggoyangkan daun telinganya. Kelopak matanya bergerak untuk segera membuka. Bunyi bising mengusik. Ia yang berada di palka bergetar saat membuka matanya. Ia mencium pupusnya kepercayaan yang teguh ia genggam berabad-abad. Sebuah kota melayang dan mendarat tepat di samping perahunya yang dulu kokoh dan sekarang koyak. Dadanya bergetar, sesungguhnya menangis juga. Orang-orang bertubuh kaleng terlihat melompat-lompat kegirangan. Lelaki tua itu tak percaya dan percaya atas dua hal yang saling beradu.

Ia beranjak. Entah ke arah mana. Ia percaya bahwa kepercayaannya telah pupus. Umur yang panjang hanya sekadar petaka. Hanya sekadar petaka. Dan ia tahu bahwa sebuah arah akan membuat kulitnya menguning atau lebih coklat. Ia percaya bahwa suatu arah akan membikin matanya menyipit atau membiru bola matanya. Di arah lain kelak rambutnya akan tumbuh dan berubah ikal atau menjadi pirang. Kelak ia akan berbicara dengan bahasa yang lain bahkan dengan Tuhan yang baru atau tidak sama sekali.***
Langgeng Prima Anggradinata Lahir di Bogor, 6 Desember 1987. Bergiat di Komunitas Seni Rumah Akasia dan Arena Studi Apresiasi Sastra ASAS UPI sebagai ketua. Berapresiasi di beberapa SMA di Kota Bogor. Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. Puisi-puisinya dibukukan dalam antologi bersama Karnaval Kupu-kupu (Flash, 2008) dan Menolak Lupa (Obsesi, 2010). Puisi, cerpen, dan artikelnya juga dimuat di berbagai media massa (Radar Banten, Jurnal Bogor, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Batam Pos, Tribun Jabar, Radar Tasikmalaya, Global Media Medan dan Jurnal Sastra RM, Bulletin Sastra Siluet) dan media on-line (Anaksastra.blogspot.com, situseni.com, dan kompas.com).

Absynthe Edisi #2: CERPEN

MATI LAMPU
Raisa Kamila

Saat Nuansa mematikan lampu kamarnya, dia tiba- tiba teringat pada malam- malam yang gelap dan mencekam di kampungnya dulu. Nyala lilin yang redup di kamarnya, cerita- cerita tentang orang yang disekap dan dibawa ke gunung atau rumah jagal, keduanya tidak kurang menyedihkan. Nuansa kemudian merasa menjadi bagian yang terpisah dengan keluarganya, jarak dan juga perasaannya. Tapi dia kemudian menarik selimut tebal dan bergegas tidur.

AYAHNYA pernah mengatakan, mati lampu bukanlah istilah yang tepat. Karena yang mati sebenarnya bukan cuma lampu, tapi juga televisi, kulkas, radio, dan pendingin ruangan. Tapi Nuansa dan Yasmin tidak suka dengan istilah yang biasa digunakan ayah dan ibunya: pemadaman bergilir. Yasmin, adik perempuannya mengatakan, yang dipadamkan kadang tidak bergilir! Hari ini kampung kita, besok kampung kita lagi, besoknya lagi kampung kita lagi. Apanya yang bergilir?

Nuansa dan Yasmin tidak terlalu suka dengan mati lampu, kendatipun mereka tidak terlalu benci. Mereka bukan anak- anak yang banyak menghabiskan waktu di depan mainan elektronik, juga di depan televisi. Mereka hanya kesal karena mati lampu bagi mereka, adalah pertanda ada kejadian buruk yang sedang berlangsung.

Ibu Nuansa dan Yasmin bukan tipikal ibu rumah tangga yang banyak bicara, banyak mengatur dan suka mencampuri urusan orang. Apakah itu alasannya mereka tinggal di kawasan yang terpencil dari keramaian penduduk kampung? Atau apakah karena kawasan tempat tinggal mereka itu, ibunya menjadi tidak banyak bicara? Keduanya memungkinkan.

Sementara ayah Nuansa dan Yasmin adalah bukan bapak kantoran. Yasmin kadang kebingungan menyebut apa pekerjaan sebenarnya ayahnya. Ayahnya sarjana hukum, memiliki firma, tapi juga mengajar di universitas, mengelola lembaga swadaya masyarakat dan menjadi penulis tetap di salah satu majalah kota. Nuansa menyarankan, lebih baik menyebutnya sarjana hukum atau pegawai negeri sipil. Pekerjaan yang aneh- aneh seperti 'pemilik firma' atau 'pengelola lembaga swadaya masyarakat' biasanya kurang dipahami anak seumuran mereka lainnya. Pekerjaan yang aneh kerap dihubungkan dengan kejadian yang buruk.

Saudara- saudari dari Ibu Nuansa dan Yasmin tinggal di luar kota yang aman dan tidak pernah mati lampu. Mereka sebenarnya tidak tinggal di sana, tapi lebih tepatnya, melarikan diri ke sana, kata Nuansa. Tidak hanya itu, mereka juga sering membujuk Ibu Nuansa dan Yasmin untuk ikut pindah ke tempat yang lebih aman. Tidak di kampung yang terus- terusan mati lampu.

Nuansa dan Yasmin suka mencuri dengar obrolan ibu dan saudaranya yang datang dari luar kota. Yasmin diam- diam bangga mendengar ketakutan dari saudara ibunya. Dan Nuansa akan terkikik sambil berbisik pada Yasmin, “Belum tahu dia bagaimana kalau mati lampu!”
Keduanya akan tertawa- tawa senang, melihat jam dinding di kamar yang semakin bergerak ke arah jam malam, semua orang di rumah dan sudah tahu listrik akan dipadamkan. Tentu saja saudara jauh dari ibunya akan panik melihat lampu tiba- tiba dipadamkan, sementara itu Yasmin dan Nuansa berjingkat- jingkat ke lemari untuk mengambil lilin dan korek api, mengatakan pada saudara ibunya, “Ini sudah biasa terjadi,” dan setelah itu biasanya akan ada suara senjata yang saling menyahuti, Yasmin semakin suka dan Nuansa seperti menikmati kengerian tiap kali mati lampu di malam hari.

ATAS alasan 'nasib kejiwaan anak- anak', saudara ibu yang lainnya datang untuk mengajak mereka pindah ke tempat yang lebih layak. Oke, tidak harus keluar dari kota ini, tapi bukankah lebih baik tinggal di kawasan yang banyak tetangga? Nuansa dan Yasmin tidak merasa ada yang salah dengan 'nasib kejiwaan' mereka. Mereka justru bangga karena bisa pergi sekolah tiap hari meskipun ada orang yang dikabarkan hilang atau mati di koran pagi. Hanya hari- hari tertentu saja mereka tidak bisa sekolah, kadang karena ada penurunan massa ke jalan raya, kadang karena sedang kontak senjata, namun lebih sering karena alasan yang belum bisa mereka cerna.

Ibu Nuansa dan Yasmin justru melawan saudaranya yang megataskan 'nasib kejiwaan anak- anak' sebagai alasan pindah. Justru itu dampak kalau mereka pindah! Kata Ibu dengan marah.
Yasmin dan Nuansa tidak mengambil pusing masalah 'nasib kejiwaan' mereka. Keduanya hanya bingung membayangkan betapa bodohnya kalau mereka pindah ke luar kota dan berbicara tentang 'cowok yang kutaksir minggu ini,' atau tentang 'ulangan matematika yang sulit', atau yang paling tolol tentang 'terlambat pergi sekolah karena macet'. Ya Tuhan, kata Nuansa dengan maksud yang tidak jelas, antara konyol dan iba.

Nuansa dan Yasmin bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah di tengah kota yang sederajat dengan sekolah dasar di luar kota. Madrasah tempat mereka belajar adalah tempat anak- anak seumuran mereka disodorkan proposal meminta bantuan keuangan dari staf pengajar. Reputasi sekolah yang tinggi kerap diabaikan staf pengajar di Madrasah yang suka menitipkan proposal itu ke orangtua teman- teman Nuansa. Seorang teman laki- laki Yasmin pernah mengeluh karena dalam sehari dia bisa menerima dua proposal sekaligus, sementara Yasmin akan kebingungan, dia juga menerima dua proposal, tapi apakah dia harus marah atau senang? Tasnya muat banyak dan Yasmin sudah tahu, proposal itu akan tergeletak tanpa takdir selanjutnya di atas meja kerja ayahnya.

Selain itu, di Madrasah Nuansa dan Yasmin, koran pagi adalah bacaan umum di sekolahan. Biasanya ada sekelompok murid yang membaca koran duluan di rumah, dan melihat orangtua siapa yang nama atau fotonya masuk di sana. Nuansa dan Yasmin biasanya cuma menjadi pendengar yang baik saat beberapa anak mengejek anak lain yang orangtua dijadikan teman tokoh kartun di koran pagi. Semuanya normal dan menyenangkan bagi Nuansa dan Yasmin. Sayangnya mereka tidak terpengaruh untuk tertawa atau sedih saat beberapa anak memanggil dengan nama ayah atau ibu mereka. Samasekali tidak lucu dan tidak menyakitkan hati, kata Nuansa.

Yasmin bertanya pada Ibu, “Kita akan pindah?” dan Ibunya menjawab pendek dan rancu, “Mungkin.”
“Mungkin kemana?” tanya Nuansa.
“Tetap di sini, mungkin cuma pindah ke rumah lain yang lebih dekat dengan sekolah kalian,”
Yasmin dan Nuansa menjadi lega.
“Terus siapa yang tinggal di sini?” tanya Yasmin lagi.
“Aku tidak tahu,” kata Ibunya dan kemudian masuk ke kamar tidur dan menguncinya.

RENCANA pindah itu terbengkalai karena saudara ibu Nuansa dan Yasmin diculik dan dibawa ke gunung saat berangkat dengan jalan darat ke luar kota. Nuansa berdecak prihatin dan Yasmin sedikit kecewa karena saudara ibunya mengabaikan pesan keramat dari mereka berdua: jangan pernah berangkat ke luar kota dengan jalur darat malam-malam apalagi kalau mati lampu!

Ayah Nuansa dan Yasmin tidak tahu harus berbuat apa. Malam itu mati lampu lagi. Kali ini bukan cuma lampu, televisi dan kulkas yang mati, tapi juga jaringan telepon diputuskan. Ibu kemudian menangis dan menyalahkan Ayah yang beberapa hari lalu ikut menurunkan massa ke masjid raya. Yasmin dan Nuansa bingung harus berbuat apa. Ayah, sambil menenangkan ibu yang panik menyuruh Nuansa dan Yasmin membungkus baju dan 'barang yang perlu', setelah itu menutup bantal guling dengan selimut tebal di kasur, seperti sosok anak kecil yang sedang tidur. Jangan lupa mengunci pintu kamar.

Apa yang terjadi? Tanya Yasmin sambil memilih- milih 'barang yang perlu' untuk dibungkus. Nuansa meninju pelan lengan Yasmin dan mengatakan mereka harus bicara berbisik. Oke, oke, kata Yasmin dan mengulangi pertanyaannya, apa yang terjadi? Nuansa menatap mata Yasmin dalam- dalam dan mengatakan, “Kejadian buruk selalu terjadi saat mati lampu.”

Yasmin baru akan protes dengan penjelasan Nuansa yang kedengarannya sok bijaksana dan tua.
Tapi ayah menyuruh mereka pergi ke garasi lewat pintu dapur, duduk dengan membungkukkan badan di jok belakang. Ibu sambil menangis juga menemani mereka ke garasi. Yasmin bertanya lagi, apa yang terjadi? Tapi Ibu –seperti biasa—tidak banyak bicara dan hanya mencoba menghentikan tangisnya.

Malam itu mereka tidur di rumah teman ayahnya di tengah kota. Paginya mereka kembali ke rumah dan tidak ada yang berubah, semua biasa saja. Yasmin kesal dan mengatakan pada dirinya sendiri, tidak ada apa- apa!

YASMIN tidak tahu bagaimana kabar Nuansa. Sejak menamatkan sekolah menengah pertama, keduanya disekolahkan ke luar kota oleh ayahnya. Dia mendengar kabar, Nuansa sekarang sedang di luar negri dan membangun jaringan pembebasan yang lain lagi. Kapan dia berangkat, pikir Yasmin sedikit gelisah, jangan- jangan dia pun tidak memberi tahu ayah dan ibu yang semakin tua dan hanya tinggal berdua di rumah lama mereka yang sekarang sudah jarang mati lampu.

Hari ini Yasmin akan memberikan pengantar untuk kedatangan seorang Syekh dari Timur Tengah. Dengan kerudung panjang yang seolah menutupi pikiran laki- laki tentang tubuhnya, Yasmin semakin resah memikirkan Nuansa. Dia rindu mendengar suara senjata saat mati lampu, dan membayangkan Nuansa sedang melakukan itu, dia sedih dan mengucapkan na'udzubillah.

Helvetica, 2 November 2008.


Raisa Kamila lahir di Aceh, Mei 1991. Cerpen-cerpennya dimuat berbagai media yang terbit di Indonesia. Saat ini Kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada.

Absynthe Edisi #2: PENGANTAR REDAKSI

VERSI ONLINE BULETIN SASTRA ABSYNTHE EDISI #2 (SEPTEMBER-OKTOBER 2010) TELAH TERBIT. SEPERTI BIASA, VERSI CETAK AKAN MENYUSUL DAN DICETAK TERBATAS. BAGI KAWAN-KAWAN YANG INGIN MENCETAK ABSYNTHE BAIK UNTUK KOLEKSI PRIBADI MAUPUN DISEBARKAN DI DAERAHNYA, SILAHKAN HUBUNGI KAMI VIA EMAIL (deaanugrah91@yahoo.co.id). KAMI AKAN MENGIRIMKAN FILE Pdf.NYA.

BAGI KAWAN-KAWAN YANG INGIN MENGIRIMKAN KARYA ATAU BERITA SEPUTAR KESUSASTRAAN, SILAHKAN KIRIMKAN VIA EMAIL (deaanugrah91@yahoo.co.id ATAU komunitasrawarawa@yahoo.com). NAMUN MOHON MAAF, KAMI BELUM BISA MENYEDIAKAN HONORARIUM. SEBAGAI GANTINYA, KAMI AKAN BERDOA UNTUK KESEHATAN ANDA.

PUJI TUHAN, UNTUK EDISI #2, PENGUMPULAN NASKAH TIDAK TERLALU SULIT. JENIS NASKAH YANG PALING BANYAK KAMI TERIMA ADALAH CERPEN, SEMENTARA YANG PALING SEDIKIT ADALAH ESEI.

REDAKSI MEMUTUSKAN UNTUK MEMUAT TIGA CERPEN SEKALIGUS KARENA KETIGA-TIGANYA KAMI ANGGAP MEMILIKI KEUNIKAN DAN KEKHASAN MASING-MASING, YANG KIRANYA MENARIK APABILA DISANDING DALAM SATTU NOMOR TERBITAN.

BERBEDA DENGAN CERPEN, TIGA PUISI DALAM SATU NOMOR TERBITAN ADALAH JUMLAH YANG SANGAT SEDIKIT. REDAKSI SAMA SEKALI TIDAK BERMAKSUD MELAKUKAN DISKRIMINASI-GENRE, NAMUN YANG TERJADI ADALAH JUMLAH NASKAH PUISI YANG TIBA DI MEJA REDAKSI MEMANG TAK BANYAK. APA BOLEH BUAT. DAN SYUKURLAH, MESKI JUMLAHNYA MENGKHAWATIRKAN, TETAPI PUISI-PUISI ITU TIDAK SERAGAM. KAMI RASA, INI TENTU LEBIH BAIK KETIMBANG MENERIMA PULUHAN ATAU RATUSAN PUISI, NAMUN YANG AKHIRNYA NONGOL YA PUISI-PUISI YANG JENISNYA SAMA MELULU.

ESEI YANG DIMUAT KALI INI BERJUDUL "Kebebasan Publikasi, Tantangan Berbahaya"
KARYA Y. Thendra BP. ESEI INI MENYOROTI PERSOALAN YANG CUKUP PENTING DALAM DUNIA PERPUISIAN INDONESIA SAAT INI (DAN MUNGKIN BERLANJUT HINGGA ESOK PAGI), DIMANA PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DAN INFORMASI BERLARI TERGESA, PADA SATU SISI, PINTU PUBLIKASI TERBUKA LEBAR. NAMUN DI SISI LAIN, 'KERAMAHAN' INI MESTI DIBAYAR MAHAL DENGAN RASA PUAS YANG TERLALU CEPAT MENYAMBANGI DIRI PARA PENYAIR MUDA KITA. PADAHAL KERJA BELUM SELESAI, BELUM APA-APA...

SALAM