Jumat, 21 Januari 2011

Absynthe Edisi #3: TERJEMAHAN

Kematian Ayah
Oleh: Charles Bukowski

            Ibuku mati setahun yang lalu. Seminggu setelah kematian ayah, aku berada sendirian di rumahnya. Di Arcadia. Padahal biasanya, aku hanya melintasi tempat ini dalam perjalanan pulangku ke Santa Anita.

            Para tetangga tak mengenalku. Upacara pemakaman telah selesai, dan aku berjalan ke kran, menuang segelas air, meminumnya, lalu keluar. Karena menganggur, aku mengambil selang, menyalakan kran air, dan mulai menyirami bunga. Tirai terhembus sementara aku berdiri di halaman depan.

Orang-orang keluar dari rumah mereka. Seorang perempuan datang dari seberang jalan.

            “Kau Henry?” tanyanya.

            Aku memberitahunya kalau aku Henry.

            “Kami telah mengenal ayahmu bertahun-tahun lamanya.”

            Kemudian suami perempuan itu menyusul. “Kami kenal ibumu juga,” ujarnya.

            Aku mematikan aliran air. “Tidakkah kalian ingin mampir?” tanyaku berbasa-basi. Mereka memperkenalkan diri sebagai Tom dan Nellie Miller lalu kami masuk ke dalam rumah.

            “Ah, kau benar-benar mirip ayahmu.”

            “Yah, begitulah kata orang.”

            Kami duduk berhadap-hadapan.

            “Oh,” seru Nyonya Miller tiba-tiba, “Ia mengoleksi banyak lukisan. Pasti ada yang paling ia sukai.”

            “Ya, sepertinya demikian...”

            “Saya benar-benar suka lukisan kincir angin di senjakala itu.”

            “Anda bisa mengambilnya.”

            “Oh, bolehkah?”

            Bel pintu berbunyi. Kali ini keluarga Gibson yang berkunjung. Mereka juga mengatakan bahwa telah bertahun-tahun bertetangga dengan ayahku.

            “Kau sungguh mirip ayahmu,” kata Nyonya Gibson.”

            “Tadi Henry menghadiahi kami lukisan kincir angin,” kata Nyonya Miller

            “Wah, baik sekali. Hmm, saya jatuh cinta pada lukisan kuda biru itu.”

            “Anda boleh mengambilnya, Nyonya Gibson.”

            “Ah, sungguh?”

            Bel berbunyi lagi dan pasangan lain ikut bergabung. Aku biarkan pintunya sedikit terbuka. Tak lama kemudian, seorang pria melongokkan kepalanya. “Saya Doug Hudson. Istriku sedang ke salon.”

            “Silakan masuk, Tuan Hudson.”

            Orang-orang terus berdatangan. Kebanyakan berpasangan. Dan mereka mulai mondar-mandir di dalam rumah.

            “Apa kau akan menjual rumah ini?”

            “Kupikir begitu.”

            “Ini lingkungan yang menyenangkan.”

            “Ya, aku bisa melihatnya.”

            “Oh, aku menyukai bingkai ini, tapi tidak lukisannya.”

            “Bawa saja bingkainya.”

            “Tapi apa yang akan kulakukan dengan lukisannya?”

            “Buang ke tempat sampah.” Aku menyapukan pandang ke sekeliling, “Kalau ada lukisan yang anda sekalian sukai, silahkan ambil.”

            Mereka melakukannya. Sebentar saja, dinding seolah telanjang.

            “Kau memerlukan kursi-kursi ini?”

            “Tidak, tidak terlalu.”

            Rumah terasa sesak, pengunjung bertambah banyak, sebagian bahkan tak merasa perlu memperkenalkan diri padaku.

            “Bagaimana dengan sofanya?” Seseorang bertanya dengan suara keras. “Apa kau menginginkannya?”

            “Tidak,” jawabku.

            Mereka membawa pergi sofa, meja dan kursi makan.

            “Kau punya pemanggang roti ‘kan, Henry?”

            Mereka mengambil pemanggang roti.

            “Kau tidak butuh piring-piring ini kan?”

            “Tidak.”

            “Sendok-garpunya?”

            “Tidak.”

            “Bagaimana dengan teko kopi dan penggiling?”

            “Ambil saja.”

            Salah seorang wanita yang berkunjung membuka-buka lemari makan. “Bagaimana nasib buah-buahan awetan ini? Kau tak mungkin memakan seluruhnya.”

            “Baiklah, semua orang, ambil yang kalian mau. Tapi berbagilah dengan adil.”

            “Oh, aku ingin stroberi!”

            “Aku menginginkan buah ara!”

            “Wai, selai jeruk itu jatahku!”

            Orang-orang pergi dan datang kembali, sebagian membawa pengunjung baru bersama mereka.

            “Hei, ada sebotol kecil wiski di lemari makan! Apa kau minum alkohol, Henry?”

            “Jangan sentuh wiskinya.”

            Rumah semakin ramai. Terdengar suara jamban disiram. Seseorang memecahkan kaca.

            “Sebaiknya kau simpan penyedot debu ini, Henry. Bisa kau gunakan di kamar sewamu.”

            “Baiklah, aku akan menyimpannya.”

            “Ayahmu punya sejumlah perkakas berkebun di garasi. Bagaimana?”

            “Tidak, tidak, lebih baik kusimpan.”

            “Saya akan memberimu 15 dolar.”

            “Oke.”

            Ia memberiku 15 dolar dan aku meminjamkannya kunci garasi. Tak lama kemudian, terdengar bunyi mesin rumput yang didorong menyebrangi jalan.

            “Harusnya perkakas-perkakas itu tak kau jual seharga 15 dolar saja, Henry. Harganya lebih dari itu.”

            Aku diam saja.

            “Bagaimana dengan mobilnya? Sudah berusia empat tahun.”

            “Kupikir aku akan menyimpan mobilnya.”

            “Aku akan membayarmu 50 dolar.”

            “Aku tetap akan menyimpan mobilnya.”

            Seseorang menggulung karpet di ruang tamu. Setelahnya, tak ada lagi yang mereka inginkan. Hanya tiga atau empat orang yang tinggal, dan kemudian mereka semua pergi. Mereka menyisakan selang air, tempat tidur, kulkas butut dan segulung tisu jamban buatku.

            Aku berjalan keluar dan bermaksud mengunci pintu garasi. Dua bocah laki-laki berpapan luncur melintas. Mereka berhenti ketika aku mengunci pintu garasi.

            “Kau lihat pria itu?”

            “Ya.”

            “Ayahnya baru saja mati.”

            Mereka kembali meluncur. Aku mengambil selang, memutar kran dan mulai menyirami mawar.


--diterjemahkan oleh Dea Anugrah
"The Death of the Father" dalam Hot Water Music (1983).

Absynthe Edisi #3: CERPEN

Bangku, Anjing, dan Dua Anak Kecil
Oleh: Sungging Raga


"Kau lihat matahari senja itu, Sally?"

"Ya."

"Seperti uang logam."

"Benar."

"Indah, bukan?"

"Tentu."

"Tapi kamu lebih indah, Sally."

Gadis kecil itu tersipu. Roland merangkulnya, mereka duduk di sebuah bangku tua di halaman belakang sebuah rumah tua yang rumputnya juga sudah tua—ah, dunia memang sudah benar-benar tua. Sally hampir tak bisa bergerak, rangkulan Roland seperti menguncinya, kunci yang menyenangkan tentunya. Rambut gadis itu dikepang dua, pirang, kepalanya merebah ke bahu Roland, agak malu-malu, tetapi memang begitulah gadis kecil yang lugu, selalu malu-malu.

Sejenak mereka tak bicara, atau lebih tepatnya, sedang tidak ada yang harus diungkapkan dengan bahasa, keduanya seperti patung, hanya angin yang membuktikan bahwa mereka adalah manusia. Angin mengembus beberapa helai rambut Sally yang tak sempat terikat.

Bangku itu memang begitu tua, begitu sabar memahami siapapun yang duduk di atasnya. Sekarang bangku itu tersenyum, ada sepasang anak kecil yang sedang menatap matahari terbenam. Bangku itu sengaja dihadapkan ke arah matahari terbenam, tidak ke arah terbitnya, entahlah, semenjak seorang lelaki tua membawanya kemari puluhan tahun lalu, ia sudah menghadap ke barat.

Pada hari-hari biasa, di pekarangan belakang rumah yang rimbun itu, bangku tersebut paling suka merenung, halaman belakang itu ada di dataran tinggi, daerah perbukitan, begitu dingin memang, tetapi pemandangannya sangat indah, dari sini bisa terlihat cakrawala, dan tentu saja, matahari yang senja, yang sedang dihayati oleh dua anak kecil itu.

"Sebentar lagi, Sally."

"Kenapa?"

"Matahari itu pasti hilang."

"Hilang?"

"Ya."

Tiba-tiba Sally bangkit, tak lagi bersandar ke pundak Roland, ia menarik napas, mengembuskannya pelan-pelan.

"Kenapa, Sally?" Roland penasaran.

"Hmh... Tentu kamu tahu."

"Tahu apa?"

"Sebenarnya bukan matahari yang hilang."

Gadis itu menggoyang-goyangkan ikatan rambutnya. Roland selalu senang kalau Sally begitu, semakin manis, diam-diam ia ingin mencium Sally, tetapi tidak pernah berani.

"Lalu?"

"Kita lah yang sebenarnya hilang."

"Kenapa bisa begitu?"

"Sebab kita selalu tahu bahwa matahari itu tidak hilang, matahari ada, meski kita tak lagi melihatnya. Sementara matahari tidak bisa lagi melihat kita, matahari tidak tahu apakah setelah ia terbenam kita masih berada di sini. Karena itulah, matahari ada, dan kita yang sebenarnya hilang."

Roland tak mengerti, bocah itu mencoba merangkul Sally kembali, ada hasrat tertentu yang mengalahkan ketidaktahuan seseorang akan sesuatu. Dan Sally ternyata tidak menolak, keduanya mendekat lagi, saling tersenyum.

Matahari berpipi merah.

***

Dataran tinggi yang lengang dan dingin. Ada seekor anjing melangkah gontai, berhenti di belakang sebuah bangku kayu. Di mata si anjing, bangku itu kosong dan tidak pernah berarti apa-apa. Tak ada yang berarti bagi anjing di dunia ini kecuali sepotong tulang yang entah mengapa harus selalu dilemparkan terlebih dahulu oleh majikannya sebelum bisa ia nikmati. Tetapi anjing tahu, bahwa sekarang, bangku itu pasti sedang berhalusinasi tentang sepasang anak kecil yang duduk di atasnya sambil melihat matahari yang merah seperti uang logam menyala-nyala.

Anjing paham, bangku itu sudah sangat tua, tetapi karena bangku bukan manusia, maka bangku tidak akan mati, apalagi ia terbuat dari kayu jati yang amat kokoh. Anjing terkadang ingin menghibur bangku agar tak selalu membayangkan apa yang tidak ada. Anak itu, dua anak yang saling merangkul sambil melihat matahari senja itu, adalah halusinasi terburuk bagi sebuah bangku yang sudah renta. Anjing mengerti perasaan bangku yang terbuat dari kayu pejal itu, kayu tidak mati, meski keropos, meski kelak patah, kayu tidak mati karena dia tidak dikubur dan tidak dibangkitkan, tidak ada yang namanya pemakaman kayu, meski kadang kayu bisa terkubur begitu saja. Namun halusinasi itu sudah sangat akut. Sekarang anjing melihat bangku itu melamun, tentu saja, sepasang anak kecil yang duduk di atasnya pun hanya akan menghadap ke arah matahari merah yang tak lagi menyilaukan itu, dua anak itu tidak akan kemana-mana lagi, sebab mereka diciptakan dan dikehendaki oleh halusinasi bangku tua itu agar selalu berada di sana dan tidak berpindah sedikit pun sampai senja selesai.

Berulangkali membayangkan hal itu, anjing tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya.

***

Bangku itu berharap malam tidak cepat datang, ia ingin dua anak yang duduk di atasnya tidak segera beranjak. Seharusnya waktu tak bisa dihitung, seharusnya waktu diam seperti aku, gumam si bangku. Sementara itu, Roland terus merangkul Sally, sesekali mengecup ujung rambutnya yang paling dekat.

"Rambutmu harum, Sally."

"Terima kasih."

"Pasti kamu keramas setiap hari."

"Tidak juga."

Bangku itu tersenyum: dua anak kecil yang duduk di sebuah bangku untuk menatap matahari akan selalu menjadi pemandangan indah. Bangku itu tak risau ketika ada seekor anjing yang melangkah gontai seperti pasukan kalah perang. Anjing itu sesungguhnya bersih, sering mandi di sungai. Bangku itu kenal betul si anjing, namanya Podil. Anjing itu jinak, tidak akan mengganggu dua anak kecil yang sedang duduk menghadap matahari senja. Sebab anjing itu rabun senja, tak bisa melihat apapun kecuali mencium bau tulang yang harus selalu dilemparkan majikannya sebelum bisa dinikmatinya.

Dua anak kecil itu pun seperti tak merasakan apa-apa ketika ada anjing berdiam di belakang mereka, bangku sudah membuat mereka duduk senyaman mungkin, seperti pencapaian tertinggi dari kenikmatan duduk di sebuah bangku sambil melihat matahari yang perlahan-lahan terbenam di rahim cakrawala.

"Sally..."

"Ya, Roland?"

"Kamu suka senja?"

"Tentu, Roland."

"Kenapa kamu suka senja?"

"Hmm… Karena senja membuat kita bisa berada di sini."

Beberapa potong daun kering jatuh di hadapan mereka, dihela angin yang lembut dan pemalu.

"Kalau begitu, Sally..."

"Ya, Roland?"

"Tidakkah kamu ingin aku menjadi senja?"

"Apa?"

"Menjadi senja."

Gadis itu terdiam sejenak.

"Tidak." lanjutnya.

"Kenapa Sally?"

"Kamu mau tahu, Roland?"

"Ya."

"Karena senja sendiri tidak pernah bisa menjadi kamu, Roland. Tidak pernah bisa menggantikan kamu."

***

Senja belum selesai, seperti tidak akan pernah selesai.

            Di bangku itu, ada sepasang anak kecil duduk menghadap ke arah matahari yang bundar sempurna. Di belakang mereka ada seekor anjing.

Bangku itu tahu, kedua anak kecil itu tak akan pernah merasakan keberadaan anjing di belakang mereka
.
Anjing itu juga tahu, setiap senja tiba, bangku itu akan selalu membayangkan sepasang anak kecil yang duduk di atasnya untuk mengamati matahari terbenam perlahan-lahan di cakrawala.

Dan dua anak kecil itu pun tahu, mereka semua tidak benar-benar ada di hamparan bukit yang sudah sangat tua itu.

Situbondo, 2010
intepretasi sederhana dari lukisan “First Love” karya Norman Rockwell.


Sungging Raga. Cerpenis Prolifik sekaligus penggemar berat kereta api. Buku cerpennya yang sudah terbit: Ketenangan Merentang Kenangan (Greentea, 2010).

Rabu, 20 Oktober 2010

Absynthe Edisi #2: PUISI

Di Kampung Naga
Zulkifli Songyanan

Dari tangga yang menghubungkan
Keluhuran nama dan kerendahan hatimu,
Aku masih memaksakan senyum sambil berusaha
Menggali segala rahasia yang kautimbun
Di balik atap-atap rumbia.

Aku berlari kemudian kulucuti semua kata
Yang ditawan ketidakpastian. Akar-akar pohon
Menjuntai di selatan, gelisahku pecah dan menjelma
Batu-batu yang sabar disengat matahari
Batu-batu yang tegar diseret arus kali.

Kampung Naga, di lesung pipimu seorang gadis manis
Menganyam bambu dengan harapan ia bisa memindahkan
Kota ke matanya. Aku cemburu. Kucuri pohon-pohon rimbun
Dan kusembunyikan dalam batinku.
Barangkali keteduhan akan tumbuh di situ.

Siang makin menyala dan aku sedikit lebih gila.
Kusaksikan ibu-ibu perkasa menggendong mimpi
Di pundaknya, sedang para lelaki memikul hasil panen
Entah ke mana. Aku termenung memahami hakikat kesederhanaan
Yang masih bernyawa di sini.                                

2007

Sajak Kemarin
Pringadi Abdi Surya

Kemarin ingin membunuhku. Kemarin mengendap-endap di atas atap. Kemarin menyamar jadi bayang bulan. Kemarin mengetuk pintu, "Selamat Malam, Bapak Pringadi, Anda belum tidur juga?" ucapnya sambil menodongku dengan sebuah pistol.

Aku kebal senjata, kecuali garpu. Aku takut garpu. Aku takut meja makan. Aku takut sepiring tenderloin. Aku takut bau kokain. Tapi, aku tidak takut pistol. Aku tidak takut bom. Aku tidak takut nuklir. Setiap hari aku makan nuklir di kolong tempat tidur. Setiap hari aku minum bensin di kamar mandi. Bensin yang ngalir dari kran itu, kecuali darah. Aku tidak mau gosok gigi dengan darah.

Kemarin diam saja. Mungkin kehabisan ide. Aku bawakan kertas dengan pensil. Ia miminta sepasang bolpoint. Ia mendongku dengan bolpoint. "Selamat Malam, Bapak Pringadi, tolong tandatangani kematian Anda di sini?" Aku lupa caranya tanda tangan. Aku menawarkan cap jempol. Aku menawarkan kecupan bibir. Aku menawarkan seks kertas lima menit saja.

Aku buka baju buka celana buka lemari yang menyimpan kelaminku tetapi kosong aku cari di laci baru ketemu dan kupasang pada tempatnya. Sepertinya kemarin kebingungan. Aku ambil kesempatan menembakkan pistol itu ke wajahnya yang ditutup-tutupi.

Kemarin mati. Aku membunuh kemarin. Wajahnya aku kenali. Aku.
  
Agrabah
Eko Putra

aku datang jasmine tanpa mahkota pangeran, tanpa kuda, , tanpa pundi-pundi berlian untuk meyakinkan perkara cinta yang menyebelah

di kotamu, aku tak merasa sebagai orang asing untuk bermalam, engkau tahu itu

jasmine, udara telah karam di sebilah tembok, tapi angin tak mungkin sampai merobek isi hati

aku bukan penyihir kesal itu, tapi penyair yang datang dengan hati ungu

mencintaimu adalah maklumat yang tak mampu kulenyapkan seperti api yang padam tak terhantarkan


Zulkifli Songyanan, lahir di Tasikmalaya 02 Juni 1990. Tercatat sebagai mahasiswa program studi Manajemen Pemasaran Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Bergiat bersama Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI.

Pringadi Abdi Surya. Palembang, 18 Agustus 1988. Duta Bahasa Prov Sumatera Selatan ini pernah masuk dalam antologi Kepada Cinta (Gagasmedia, 2009), Kumpulan Puisi Alusi (Pustakapujangga, 2009), Batam Pos, Global Medan, Koran Jambi dan di media siber seperti di kompas.com, kabarindonesia.com, kemudian.com, kolomkita.com, dan fesbuk tentunya. Tengah menyiapkan kumcernya.

Eko Putra, lahir Juni 1990 di Sumatera Selatan. Menulis puisi sejak duduk di bangku sekolah. Sejak medio 2009 terjun ke tengah-tengah masyarakat sebagai seorang pejabat desa. Puisi-puisinya dipublikasikan di sejumlah antologi dan media massa yang terbit di Indonesia. Buku kumpulan puisinya yang sudah terbit: Musi yang Manis Kekasihku (Bejana, 2010)

Absynthe Edisi #2: ESEI

Kebebasan Publikasi, Tantangan Berbahaya
Y. Thendra BP

 
“Penyair muda sepertinya berpikir yang dibutuhkan adalah mesin tik dan beberapa potong kertas. Mereka tidak siap, mereka tidak memiliki persiapan sama sekali.”

Begitulah ucapan Charles Bukowski—dikutip dari Hot Water Music, 1995—penyair Beat Generation gelombang ke dua, yang terkenal karena vitalitasnya bertahan hidup dan peminum berat di masyarakat pinggiran. Sebelum memulai karirnya sebagai penyair, Bukowski bekerja dalam pekerjaan kasar dan jurnalis di Harlequin. Dia digambarkan oleh Jean Genet dan Jean-Paul Sartre sebagai penyair Amerika terbesar.

Setelah lulus dari Los Angeles High School, Bukowski belajar selama setahun di Los Angeles City College, mengambil kursus jurnalistik dan sastra. Dia meninggalkan rumah pada tahun 1941 –ayahnya telah membaca cerita-ceritanya dan melemparkan barang-barang miliknya ke halaman. Ia pernah bekerja di pom bensin, operator lift, sopir truk, buruh pabrik biskuit, dan di kantor pos. Pada usia tiga puluh lima dia mulai menulis puisi.
Melihat perjalanan hidup Bukowski, agaknya bisa membantah pameo antara aktor dan penyair yang ditulis oleh Boleslawski dalam buku Enam Pelajaran Pertama bagi Calon Aktor (terjemahan Asrul Sani)—aktor dan penyair datang ke sebuah pertunjukan teater, di depan gedung teater mereka melihat pengemis yang sangat menyedihkan, penyair berhasrat menuliskan puisi untuk menggambarkan pengemis itu, sedangkan si aktor tak perlu melakukan apa-apa karena ia ‘merasa’ sudah menjadi pengemis itu, atau dengan kata lain sindiran halus bahwa aktor memiliki empati ‘lebih’ daripada penyair. Benarkah klaim Boleslawski itu? Belum tentu. Sangat belum tentu.

Empati bisa digali dari pengalaman bersentuhan langsung dengan kehidupan, dan itu telah memberi ‘kekuatan’ pada puisi Bukowski. Dimana Bukowski mengaku, 93 persen puisinya adalah otobiografi. Puisinya sangat dipengaruhi oleh keadaan kota tempat tinggalnya. Selain itu, ia juga menulis cerita pendek dan novel.

Secara intrinsik dan ekstrinsik karya Bukowski juga bisa membantah apa yang ditulis oleh ‘manusia hotel’ Iwan Simatupang dalam novel Merahnya Merah: penulis yang tak pernah kena sengatan sinar matahari.

Bisakah spirit dan pergulatan Charles Bukowski ‘memasuki hidup' yang diretrospeksikannya dalam puisi itu, misalnya, ditemukan pada puisi generasi muda sekarang—yang barangkali adalah Poets Society yang datang dari masa depan—bahwa menulis puisi, khususnya otobiografi maupun liris, bukan sesuatu ‘seolah-olah’ atau khayalan semata, tapi berangkat dari empiris, tak terpisah dari kehidupan (lingkungan), dan tak cuma mengandalkan pada bakat alam. Apalagi, kecenderungan puisi generasi sekarang banyak bermain pada ranah otobiografi dan lirisme.
***

Publikasi yang terbuka luas sekarang ini (koran, majalah, buletin, buku, milis, web, blog, facebook, twitter) dan mulai runtuhnya pusat kekuasaan sastra yang kerjanya cuma membaptis kepenyairan seseorang secara arsesif, adalah sebuah kemenangan masa sekaligus tantangan yang berbahaya, yang dimiliki penyair muda!

Pada ruang cyber, dibandingkan media publikasi konvensional (cetak), puisi hadir di publik tidak lagi setelah melalui tangan yang lain, yang masing-masing pemilik tangan tersebut, tentu memiliki selera berbeda-beda.

Namun kebebasan itu, sesungguhnya meminta pertanggungjawaban lebih, agar puisi tidak sekadar kecanggihan bermain bahasa, mengindah-indahkan bahasa (bahasa itu sudah indah!) dan produksi teks dari mesin (komputer) semata. Hal ini juga menjangkiti beberapa penyair yang konon sudah senior. Kegenitan publikasi di media cetak pun cyber, kadang tak ubahnya seperti status di facebook dan twitter, berisi persoalan pribadi yang seolah-olah menyangkut hajat orang banyak.

Wilayah domestik, ruang pribadi, bilik dalam, yang tak menyangkut hajat orang banyak itu tanpa ‘diolah’ tapi tetap dipublikasikan, mengingatkan kita pada infoitament. Lebih mengejar sensasi yang banal. Adakah Selebritis Syndrom juga tengah merasuk dalam sastra kita?

Jika kritik pingsan, jurusan sastra Indonesia mandul, sudah sepatutnya penyair membikin perhitungan habis-habisan dengan puisinya, sebelum puisinya itu melangkah bergelanggang mata orang banyak, bertemu pembaca aktif maupun pasif. Sebagaimana dokter, penyair juga profesi yang menuntut keseriusan dan tanggungjawab agar tidak terjadi malpraktek terhadap karyanya.

Puisi adalah dunia yang menjadi, tulis Chairil Anwar. Bagaimana puisi bisa menjadi ‘dunia yang menjadi’? Inilah tantangan terberat bagi penyair, sesungguhnya. Bukan berapa sering dimuat di media. Lalu berharap dapat undangan resepsi sastra. Apalah guna ikut 'pesta satra' itu, jika cuma ibarat mentimun bungkuk yang masuk karung tapi tak masuk hitungan. Jadi tukuk tambah.

Dan apabila puisi menjadi ‘dunia yang menjadi’ itu, agaknya, kita bakal bertemu apa yang disampaikan Konfusius: “Tidak belajar sajak, tidak ada yang bisa dibicarakan.”

Li Po, Jalaludin Rumi, Matsuo Basho, William Shakespeare, Arthur Rimbaud, Rainer Maria Rilke, TS Eliot, Pablo Neruda, menyebut beberapa nama yang cukup familiar di publik sastra kita misalnya, ketika kita membaca puisi mereka, secara diam-diam puisi mereka menyusup ke dalam memori intim, membuat ingatan bersama. Pengalaman penyair, pengalaman pembaca juga.

Bahkan, puisi bisa menjadi spirit bagi zamannya. Allen Ginsberg, lewat puisinya, turut memberi warna pada gerakan Beat Generation di Amerika Serikat tahun 1950-an. Wiji Tukul, penyair cum aktivis asal Solo yang hingga sekarang tidak diketahui keberadaannya, puisinya “Hanya Ada Satu Kata: Lawan! “ Diteriakkan lantang dan jadi simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru oleh mahasiswa pergerakan, hingga runtuhnya rezim para jenderal itu pada tahun 1998.

Pun Chairil Anwar, yang memberi kontribusi terhadap perkembangan puisi modern dan bahasa Indonesia. Meski berusia pendek, ia hanya mempublikasikan sekitar 77 puisi saja, namun bukan kuantitas yang menjadi tolak ukur, melainkan kualitas. Toh, karya seni bukan seperti barang kerajinan yang berorientasi pasar semata (media).

Yang pasti, masa depan perpuisian Indonesia terletak di tangan penyair muda yang berani melawan ucapan Bukowski di awal tulisan ini. Tentu saja dengan “memiliki persiapan” dalam puisi yang mereka ciptakan. Dan karya bukan sekadar produksi teks dari mesin (komputer), tapi teks yang bersumber dari kehidupan.



Y. Thendra BP, berasal dari Nagari Padang Sibusuk, Sumatera Barat. Lahir di Bangkinang 10 Mei 1980-an. Tuhan, telpon aku dong (Gambala Media, 2004) adalah buku kumpulan puisi tunggal pertamanya. Saat ini ia bekerja sebagai jurnalis.