Rabu, 20 Oktober 2010

Absynthe Edisi #2: CERPEN

MATI LAMPU
Raisa Kamila

Saat Nuansa mematikan lampu kamarnya, dia tiba- tiba teringat pada malam- malam yang gelap dan mencekam di kampungnya dulu. Nyala lilin yang redup di kamarnya, cerita- cerita tentang orang yang disekap dan dibawa ke gunung atau rumah jagal, keduanya tidak kurang menyedihkan. Nuansa kemudian merasa menjadi bagian yang terpisah dengan keluarganya, jarak dan juga perasaannya. Tapi dia kemudian menarik selimut tebal dan bergegas tidur.

AYAHNYA pernah mengatakan, mati lampu bukanlah istilah yang tepat. Karena yang mati sebenarnya bukan cuma lampu, tapi juga televisi, kulkas, radio, dan pendingin ruangan. Tapi Nuansa dan Yasmin tidak suka dengan istilah yang biasa digunakan ayah dan ibunya: pemadaman bergilir. Yasmin, adik perempuannya mengatakan, yang dipadamkan kadang tidak bergilir! Hari ini kampung kita, besok kampung kita lagi, besoknya lagi kampung kita lagi. Apanya yang bergilir?

Nuansa dan Yasmin tidak terlalu suka dengan mati lampu, kendatipun mereka tidak terlalu benci. Mereka bukan anak- anak yang banyak menghabiskan waktu di depan mainan elektronik, juga di depan televisi. Mereka hanya kesal karena mati lampu bagi mereka, adalah pertanda ada kejadian buruk yang sedang berlangsung.

Ibu Nuansa dan Yasmin bukan tipikal ibu rumah tangga yang banyak bicara, banyak mengatur dan suka mencampuri urusan orang. Apakah itu alasannya mereka tinggal di kawasan yang terpencil dari keramaian penduduk kampung? Atau apakah karena kawasan tempat tinggal mereka itu, ibunya menjadi tidak banyak bicara? Keduanya memungkinkan.

Sementara ayah Nuansa dan Yasmin adalah bukan bapak kantoran. Yasmin kadang kebingungan menyebut apa pekerjaan sebenarnya ayahnya. Ayahnya sarjana hukum, memiliki firma, tapi juga mengajar di universitas, mengelola lembaga swadaya masyarakat dan menjadi penulis tetap di salah satu majalah kota. Nuansa menyarankan, lebih baik menyebutnya sarjana hukum atau pegawai negeri sipil. Pekerjaan yang aneh- aneh seperti 'pemilik firma' atau 'pengelola lembaga swadaya masyarakat' biasanya kurang dipahami anak seumuran mereka lainnya. Pekerjaan yang aneh kerap dihubungkan dengan kejadian yang buruk.

Saudara- saudari dari Ibu Nuansa dan Yasmin tinggal di luar kota yang aman dan tidak pernah mati lampu. Mereka sebenarnya tidak tinggal di sana, tapi lebih tepatnya, melarikan diri ke sana, kata Nuansa. Tidak hanya itu, mereka juga sering membujuk Ibu Nuansa dan Yasmin untuk ikut pindah ke tempat yang lebih aman. Tidak di kampung yang terus- terusan mati lampu.

Nuansa dan Yasmin suka mencuri dengar obrolan ibu dan saudaranya yang datang dari luar kota. Yasmin diam- diam bangga mendengar ketakutan dari saudara ibunya. Dan Nuansa akan terkikik sambil berbisik pada Yasmin, “Belum tahu dia bagaimana kalau mati lampu!”
Keduanya akan tertawa- tawa senang, melihat jam dinding di kamar yang semakin bergerak ke arah jam malam, semua orang di rumah dan sudah tahu listrik akan dipadamkan. Tentu saja saudara jauh dari ibunya akan panik melihat lampu tiba- tiba dipadamkan, sementara itu Yasmin dan Nuansa berjingkat- jingkat ke lemari untuk mengambil lilin dan korek api, mengatakan pada saudara ibunya, “Ini sudah biasa terjadi,” dan setelah itu biasanya akan ada suara senjata yang saling menyahuti, Yasmin semakin suka dan Nuansa seperti menikmati kengerian tiap kali mati lampu di malam hari.

ATAS alasan 'nasib kejiwaan anak- anak', saudara ibu yang lainnya datang untuk mengajak mereka pindah ke tempat yang lebih layak. Oke, tidak harus keluar dari kota ini, tapi bukankah lebih baik tinggal di kawasan yang banyak tetangga? Nuansa dan Yasmin tidak merasa ada yang salah dengan 'nasib kejiwaan' mereka. Mereka justru bangga karena bisa pergi sekolah tiap hari meskipun ada orang yang dikabarkan hilang atau mati di koran pagi. Hanya hari- hari tertentu saja mereka tidak bisa sekolah, kadang karena ada penurunan massa ke jalan raya, kadang karena sedang kontak senjata, namun lebih sering karena alasan yang belum bisa mereka cerna.

Ibu Nuansa dan Yasmin justru melawan saudaranya yang megataskan 'nasib kejiwaan anak- anak' sebagai alasan pindah. Justru itu dampak kalau mereka pindah! Kata Ibu dengan marah.
Yasmin dan Nuansa tidak mengambil pusing masalah 'nasib kejiwaan' mereka. Keduanya hanya bingung membayangkan betapa bodohnya kalau mereka pindah ke luar kota dan berbicara tentang 'cowok yang kutaksir minggu ini,' atau tentang 'ulangan matematika yang sulit', atau yang paling tolol tentang 'terlambat pergi sekolah karena macet'. Ya Tuhan, kata Nuansa dengan maksud yang tidak jelas, antara konyol dan iba.

Nuansa dan Yasmin bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah di tengah kota yang sederajat dengan sekolah dasar di luar kota. Madrasah tempat mereka belajar adalah tempat anak- anak seumuran mereka disodorkan proposal meminta bantuan keuangan dari staf pengajar. Reputasi sekolah yang tinggi kerap diabaikan staf pengajar di Madrasah yang suka menitipkan proposal itu ke orangtua teman- teman Nuansa. Seorang teman laki- laki Yasmin pernah mengeluh karena dalam sehari dia bisa menerima dua proposal sekaligus, sementara Yasmin akan kebingungan, dia juga menerima dua proposal, tapi apakah dia harus marah atau senang? Tasnya muat banyak dan Yasmin sudah tahu, proposal itu akan tergeletak tanpa takdir selanjutnya di atas meja kerja ayahnya.

Selain itu, di Madrasah Nuansa dan Yasmin, koran pagi adalah bacaan umum di sekolahan. Biasanya ada sekelompok murid yang membaca koran duluan di rumah, dan melihat orangtua siapa yang nama atau fotonya masuk di sana. Nuansa dan Yasmin biasanya cuma menjadi pendengar yang baik saat beberapa anak mengejek anak lain yang orangtua dijadikan teman tokoh kartun di koran pagi. Semuanya normal dan menyenangkan bagi Nuansa dan Yasmin. Sayangnya mereka tidak terpengaruh untuk tertawa atau sedih saat beberapa anak memanggil dengan nama ayah atau ibu mereka. Samasekali tidak lucu dan tidak menyakitkan hati, kata Nuansa.

Yasmin bertanya pada Ibu, “Kita akan pindah?” dan Ibunya menjawab pendek dan rancu, “Mungkin.”
“Mungkin kemana?” tanya Nuansa.
“Tetap di sini, mungkin cuma pindah ke rumah lain yang lebih dekat dengan sekolah kalian,”
Yasmin dan Nuansa menjadi lega.
“Terus siapa yang tinggal di sini?” tanya Yasmin lagi.
“Aku tidak tahu,” kata Ibunya dan kemudian masuk ke kamar tidur dan menguncinya.

RENCANA pindah itu terbengkalai karena saudara ibu Nuansa dan Yasmin diculik dan dibawa ke gunung saat berangkat dengan jalan darat ke luar kota. Nuansa berdecak prihatin dan Yasmin sedikit kecewa karena saudara ibunya mengabaikan pesan keramat dari mereka berdua: jangan pernah berangkat ke luar kota dengan jalur darat malam-malam apalagi kalau mati lampu!

Ayah Nuansa dan Yasmin tidak tahu harus berbuat apa. Malam itu mati lampu lagi. Kali ini bukan cuma lampu, televisi dan kulkas yang mati, tapi juga jaringan telepon diputuskan. Ibu kemudian menangis dan menyalahkan Ayah yang beberapa hari lalu ikut menurunkan massa ke masjid raya. Yasmin dan Nuansa bingung harus berbuat apa. Ayah, sambil menenangkan ibu yang panik menyuruh Nuansa dan Yasmin membungkus baju dan 'barang yang perlu', setelah itu menutup bantal guling dengan selimut tebal di kasur, seperti sosok anak kecil yang sedang tidur. Jangan lupa mengunci pintu kamar.

Apa yang terjadi? Tanya Yasmin sambil memilih- milih 'barang yang perlu' untuk dibungkus. Nuansa meninju pelan lengan Yasmin dan mengatakan mereka harus bicara berbisik. Oke, oke, kata Yasmin dan mengulangi pertanyaannya, apa yang terjadi? Nuansa menatap mata Yasmin dalam- dalam dan mengatakan, “Kejadian buruk selalu terjadi saat mati lampu.”

Yasmin baru akan protes dengan penjelasan Nuansa yang kedengarannya sok bijaksana dan tua.
Tapi ayah menyuruh mereka pergi ke garasi lewat pintu dapur, duduk dengan membungkukkan badan di jok belakang. Ibu sambil menangis juga menemani mereka ke garasi. Yasmin bertanya lagi, apa yang terjadi? Tapi Ibu –seperti biasa—tidak banyak bicara dan hanya mencoba menghentikan tangisnya.

Malam itu mereka tidur di rumah teman ayahnya di tengah kota. Paginya mereka kembali ke rumah dan tidak ada yang berubah, semua biasa saja. Yasmin kesal dan mengatakan pada dirinya sendiri, tidak ada apa- apa!

YASMIN tidak tahu bagaimana kabar Nuansa. Sejak menamatkan sekolah menengah pertama, keduanya disekolahkan ke luar kota oleh ayahnya. Dia mendengar kabar, Nuansa sekarang sedang di luar negri dan membangun jaringan pembebasan yang lain lagi. Kapan dia berangkat, pikir Yasmin sedikit gelisah, jangan- jangan dia pun tidak memberi tahu ayah dan ibu yang semakin tua dan hanya tinggal berdua di rumah lama mereka yang sekarang sudah jarang mati lampu.

Hari ini Yasmin akan memberikan pengantar untuk kedatangan seorang Syekh dari Timur Tengah. Dengan kerudung panjang yang seolah menutupi pikiran laki- laki tentang tubuhnya, Yasmin semakin resah memikirkan Nuansa. Dia rindu mendengar suara senjata saat mati lampu, dan membayangkan Nuansa sedang melakukan itu, dia sedih dan mengucapkan na'udzubillah.

Helvetica, 2 November 2008.


Raisa Kamila lahir di Aceh, Mei 1991. Cerpen-cerpennya dimuat berbagai media yang terbit di Indonesia. Saat ini Kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada.

Absynthe Edisi #2: PENGANTAR REDAKSI

VERSI ONLINE BULETIN SASTRA ABSYNTHE EDISI #2 (SEPTEMBER-OKTOBER 2010) TELAH TERBIT. SEPERTI BIASA, VERSI CETAK AKAN MENYUSUL DAN DICETAK TERBATAS. BAGI KAWAN-KAWAN YANG INGIN MENCETAK ABSYNTHE BAIK UNTUK KOLEKSI PRIBADI MAUPUN DISEBARKAN DI DAERAHNYA, SILAHKAN HUBUNGI KAMI VIA EMAIL (deaanugrah91@yahoo.co.id). KAMI AKAN MENGIRIMKAN FILE Pdf.NYA.

BAGI KAWAN-KAWAN YANG INGIN MENGIRIMKAN KARYA ATAU BERITA SEPUTAR KESUSASTRAAN, SILAHKAN KIRIMKAN VIA EMAIL (deaanugrah91@yahoo.co.id ATAU komunitasrawarawa@yahoo.com). NAMUN MOHON MAAF, KAMI BELUM BISA MENYEDIAKAN HONORARIUM. SEBAGAI GANTINYA, KAMI AKAN BERDOA UNTUK KESEHATAN ANDA.

PUJI TUHAN, UNTUK EDISI #2, PENGUMPULAN NASKAH TIDAK TERLALU SULIT. JENIS NASKAH YANG PALING BANYAK KAMI TERIMA ADALAH CERPEN, SEMENTARA YANG PALING SEDIKIT ADALAH ESEI.

REDAKSI MEMUTUSKAN UNTUK MEMUAT TIGA CERPEN SEKALIGUS KARENA KETIGA-TIGANYA KAMI ANGGAP MEMILIKI KEUNIKAN DAN KEKHASAN MASING-MASING, YANG KIRANYA MENARIK APABILA DISANDING DALAM SATTU NOMOR TERBITAN.

BERBEDA DENGAN CERPEN, TIGA PUISI DALAM SATU NOMOR TERBITAN ADALAH JUMLAH YANG SANGAT SEDIKIT. REDAKSI SAMA SEKALI TIDAK BERMAKSUD MELAKUKAN DISKRIMINASI-GENRE, NAMUN YANG TERJADI ADALAH JUMLAH NASKAH PUISI YANG TIBA DI MEJA REDAKSI MEMANG TAK BANYAK. APA BOLEH BUAT. DAN SYUKURLAH, MESKI JUMLAHNYA MENGKHAWATIRKAN, TETAPI PUISI-PUISI ITU TIDAK SERAGAM. KAMI RASA, INI TENTU LEBIH BAIK KETIMBANG MENERIMA PULUHAN ATAU RATUSAN PUISI, NAMUN YANG AKHIRNYA NONGOL YA PUISI-PUISI YANG JENISNYA SAMA MELULU.

ESEI YANG DIMUAT KALI INI BERJUDUL "Kebebasan Publikasi, Tantangan Berbahaya"
KARYA Y. Thendra BP. ESEI INI MENYOROTI PERSOALAN YANG CUKUP PENTING DALAM DUNIA PERPUISIAN INDONESIA SAAT INI (DAN MUNGKIN BERLANJUT HINGGA ESOK PAGI), DIMANA PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DAN INFORMASI BERLARI TERGESA, PADA SATU SISI, PINTU PUBLIKASI TERBUKA LEBAR. NAMUN DI SISI LAIN, 'KERAMAHAN' INI MESTI DIBAYAR MAHAL DENGAN RASA PUAS YANG TERLALU CEPAT MENYAMBANGI DIRI PARA PENYAIR MUDA KITA. PADAHAL KERJA BELUM SELESAI, BELUM APA-APA...

SALAM

Absynthe Edisi #1: SAJAK



Lukai Aku
Rozi Kembara

lukai aku dengan seluruh keberangkatan
yang menumpahkan rindu

sedang di langit sekawanan burung
menjadikan senja sebagai kekal sarang

lalu apalagikah yang teramat memilukan
setelah sengatan kenangan

Tanah Serang, 2009 


Di Terminal
Zulkifli Songyanan

Dan waktu seperti melumuri perasaanku
Dengan kecemasan. Sedang dari arah
Paling gelisah, bocah-bocah penjaja kesedihan,
Antrian panjang kendaraan, seolah memintaku
Terlibat dalam kesabaran yang melelahkan.

Seperti ada yang tertinggal di antara jerit peluit
Dan papan selamat jalan. Sebuah bis beranjak
Ke selatan, ke suatu tempat di mana
Sebuah percakapan tak sempat
Kita rampungkan.

Rindu, katamu, akan memerlukan sekian banyak
Ruang tunggu. Namun aku mulai lupa akan hal itu.
Aku sudah terlalu jauh mencintaimu.

2009.

Dengan Langkah Damai dan Tanpa Gegas Aku Merujukmu
Irwan Sofwan

dengan langkah damai dan tanpa gegas
aku merujukmu
maka segala yang tampak menyeruak
ke tepi sajak

suara-suara  mengalir di antara detik yang rincik
dan musim menghijau dalam matamu yang kilau

kau yang kini terbangun dalam sajak-sajakku
ketika pagi menjelma sepasang kupu-kupu
terbang dan bermain dalam ingatanku

maka biarkan aku terus menulis puisi
memasuki kata-kata
menerjemahkan hatimu dengan seteguk embun
yang kuhimpun dari daun-daun


2009


Kumasuki Lagi Dingin Kotamu
Irwan Sofwan

di telapak tangan
hening dan lapang
kurebahkan wajahku

bagi mataku
juga tubuhku yang redup
tak ada yang lebih berarti selain denyut

ah, kumasuki lagi dingin kotamu

di mana aku hampir tak menemukan matahari
bahkan di langit-langit terdekatku
ia seolah sembunyi

gerimis datang berulang kali
meneteskan kembali ingatan-ingatanku padamu
pada senja yang mematikan bayang-bayang
mempertemukan kita pada lengang yang panjang

ah, kumasuki lagi dingin kotamu

malam berlubang
kulihat matamu mengambang
menjadi lampu-lampu pucat di jalan, mall, dan pertokoan
serta rumah-rumah yang kesepian

ke manakah deru lautan api?
ke manakah Sangkuriang melayarkan
ketulusan dan keberanian cintanya kepada Dayang Sumbi?

ah, kumasuki lagi dingin kotamu

di mana waktu seperti pohonan pinggir jalan
tenang dan kaku
melemparkan daunnya satu-satu


Bandung, 2009



BIODATA KONTRIBUTOR

Rozi Kembara. Lahir 27 Juni 1990 di Tasikmalaya. Puisi-puisinya dimuat sejumlah media massa dan antologi. Bergiat di komunitas rawarawa. Kini sedang belajar di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.
Zulkifli Songyanan. Lahir di Tasikmalaya 02 Juni 1990. Tercatat sebagai mahasiswa program studi Manajemen Pemasaran Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Bergiat bersama Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI.

Irwan Sofwan.  Lahir di Serang, Banten 24 Oktober 1981. Alumni Diksatrasia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Sejumlah tulisan dan sajak-sajaknya dipublikasi harian Pikiran Rakyat, Radar Banten, Tabloid Kaibon Banten, Fajar Banten, Antologi Puisi Candu Rindu (Penerbit Kubah Budaya 2009), dan Dari Batas Waktu Ke Perjalanan Kamar Sampai Kabar Dari Langit (Rumah Dunia 2006). Saat ini aktif sebagai salah seorang pengurus Kubah Budaya.


Buletin Absynthe menerima kiriman puisi, esei dan cerpen yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Silahkan kirimkan naskah anda ke komunitasrawarawa@yahoo.com. Bagi penulis yang karyanya dimuat, mohon maaf kami belum bisa menyediakan honorarium.Gak dibiayain Ford sih. Ha ha ha.

Absynthe Edisi #1: CERPEN

Greatest International Literary Biennale
Dea Anugrah

Alkisah, pada sebuah malam yang cerah—bulan perak yang sangat besar menggantung di langit yang terlalu bersih. Tak ada awan ataupun kabut yang menutupi sinarnya. Juga sinar bintang-bintang dan benda-benda angkasa lainnya—akan diadakan pesta sastra besar-besaran. Bertempat di sebuah kafe mewah yang menyediakan panggung mewah dan makanan-makanan serta minuman-minuman yang mewah pula. Dengan penampil, pembicara, peserta dan komentator dari berbagai negara. Internasional. Dahsyat. Luar biasa.

Menurut ketua panitia penyelenggara, Sunarto Selengek, acara sehebat ini belum pernah ada dalam sejarah pesta sastra di Indonesia. Dan karena itulah, panitia merasa perlu memberikan tajuk yang belum pernah ada dalam sejarah pesta sastra di Indonesia pula. Tajuk yang terkesan gagah namun tak begitu jelas asal-usulnya: Greatest International Literary Biennale.

Berbekal kartu pers butut, sepeda motor butut dan satu stel pakaiannya yang paling bagus namun butut juga, seorang wartawan koran Minggu Sore berangkat ke acara itu. Besar harapannya ia akan dibolehkan meliput oleh satpam yang menjaga agar acara tersebut tetap aman, kondusif, tentram dan terkendali. Besar harapannya agar tak bernasib sama dengan seorang penyair-tak-diundang yang diusir dari acara sebelumnya yang serupa (tapi tak sehebat ini, tentu saja). Ia, wartawan Minggu Sore yang berdedikasi tinggi itu, sekali lagi memastikan kerapihan penampilannya sebelum mengengkol motor.

Tibalah wartawan kita itu di tempat berlangsungnya acara tersebut. Di sana sudah ramai, kebanyakan yang hadir mengendarai mobil dan beberapa mengendarai sepeda motor. Namun dari kedua jenis kendaraan tersebut yang berada di parkiran, tak satupun yang bisa dikatakan mirip dengan kendaraan sang wartawan. Tapi sebagai wartawan yang berdedikasi tinggi, ia tak gentar! Hidup atau mati, ia akan pulang dan membawa berita untuk Lantip, redaktur koran tempatnya menggantung hidup. Begitulah yang terbaca dari roman mukanya. Penuh semangat. Heroik.

Ternyata kartu pers masih dianggap. Wartawan kita diizinkan meliput, meski dari jarak yang agak jauh.

Setelah beberapa kali pembacaan puisi oleh beberapa orang berbeda yang selalu disambut tepuk tangan meriah saat naik dan turun panggung, sampailah acara pada sesi diskusi. Wartawan kita kembali bersemangat. Instingnya mengatakan bahwa ia akan membawa pulang berita yang bagus dan berisi. “Jelaslah, ini kan acara dahsyat,” gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.

Seorang pembicara naik ke panggung dan mulai berbicara. Peserta yang kebagian tempat duduk di depan dan tengah banyak yang kelihatan mengangguk-angguk. Sepertinya mereka sepakat betul dengan apa yang dikemukakan oleh pembicara. Wartawan Minggu Sore kita kecewa. Mungkin karena berada jauh di belakang, di dekat pintu masuk, suara pembicara terdengar sayup-sayup saja di telinganya. Ya apa boleh buat, satpam tak mengizinkannya masuk terlalu jauh ke dalam. Selain karena ia bukan tamu undangan, kursi yang disediakan pun semuanya sudah terisi.

Di tengah kegalauan yang rasa-rasanya berlangsung teramat panjang itu, tiba-tiba terjadi sesuatu. Dari baris tengah, seseorang berdiri hendak mengajukan pertanyaan kepada pembicara. Sebuah pengeras suara diberikan kepadanya.

“Selamat malam semuanya. Nama saya Tendra, wartawan koran Minggu Pagi. Saya mau bertanya kepada Mas Narwin selaku pembicara. Oke. Emm. Nganu, Mas, saya seringkali bingung ketika membaca puisi. Saya seringkali ndak ngerti maksud puisinya itu lho. Ini saya yang bodoh atau penyairnya ya?”

Suaranya cempreng dan lantang. Entah karena suara atau pertanyaannya, hadirin-hadirat yang terhormat di kafe itu sontak terbahak-bahak. Termasuk peserta dari luar negeri yang tak paham bahasa Indonesia. Tentu saja muka Tendra yang wartawan Minggu Pagi itu memerah malu ditertawakan begitu. Tapi Wartawan Minggu Sore diam saja, ia tak merasa ada yang lucu dari pertanyaan rekannya sesama wartawan itu.

Bak seorang resi nan sakti, gerak tubuh Narwin Dawinta, sang pembicara, sanggup membuat semua hadirin terdiam kembali. Ia akan menjawab. Kali ini, sepertinya volume suara mic diperkeras, sehingga Wartawan Minggu Sore yang berada di dekat pintu masuk pun bisa mendengarkan deham sang pembicara dengan jelas.

“Begini, Bung Tendra. Singkatnya, sebuah puisi, bagaimanapun juga, memiliki tugas untuk menerangkan dirinya kepada pembaca. Nah, kalau pembaca malah tidak mengerti dan kebingungan, berarti puisi itulah yang gagal. Penyairnya yang bodoh, bukan pembaca. Sebagai contoh puisi-puisi yang berhasil, bacalah album puisi saya, Ginjal Tawon Selir. Terima kasih,” Jawab Narwin. Diiringi senyum khasnya.

Kebanyakan peserta kembali mengangguk-angguk sepakat. Sebagian malah sempat bertepuk tangan. Namun dengan cepat Tendra mengacungkan jarinya lagi. Kali ini wajahnya tampak kalem dan lembut. Karena mic masih berada di genggaman tangan kirinya, ia langsung berbicara. Kali ini suaranya pun terdengar kalem dan lembut.

“Tapi Mas Narwin, saya sudah baca Ginjal Tawon Selir. Tak satu puisi pun di dalamnya yang saya mengerti. Tak satupun lho, Mas. Mengalahkan buku-buku puisi lain yang pernah saya baca.”

Selesai bicara demikian, Tendra menyandang tasnya dan beranjak. Sepertinya ia akan pulang karena sudah mengumpulkan cukup bahan berita. Tendra berjalan menuju pintu. Tendra keluar. Peserta lain diam saja. Satpam diam saja. Senyap. Acara tiba-tiba jadi benar-benar senyap. Narwin Dawinta Sang Pembicara hanya bisa melongo. Di dekat pintu masuk, Wartawan Minggu Sore yang penuh dedikasi itu biru mukanya karena menahan tawa. Ia segera keluar untuk menyusul Tendra, sang wartawan Minggu Pagi. Dan tentu saja, untuk tertawa.


NB: Di hari kedua pelaksanaan Greatest International Literary Biennale yang internasional dan belum pernah ada dalam sejarah pesta sastra Indonesia itu, nyaris tak ada wartawan yang meliput. Setelah diselidiki musababnya, ternyata mereka berbondong-bondong pergi ke Sewon, Bantul, untuk mewawancarai Mbah Andika, seorang ahli pengobatan herbal. Termasuk Tendra, wartawan serba bisa Minggu Pagi dan kawan barunya, Wartawan Minggu Sore yang penuh dedikasi itu.


Dea Anugrah. Lahir di Pangkalpinang, Bangka Belitung, 27 Juni 1991. Tulisan-tulisannya dipublikasikan di antologi Suara-Suara Nurani dan Kalbu (2009), Sebilah Sayap Bidadari (2010), Teka-teki tentang Tubuh dan Kematian (2010) serta sejumlah koran, buletin, tabloid dan jurnal yang terbit di sejumlah kota di Indonesia. Juga di beberapa situs internet. Kuliah di Fakultas Filsafat UGM dan menetap di Yogyakarta. Buku kumpulan puisinya yang sudah terbit: Penyair (itu) Bodoh (2009). Bergiat di Komunitas rawarawa.


Buletin Absynthe menerima kiriman puisi, esei dan cerpen yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Silahkan kirimkan naskah anda ke komunitasrawarawa@yahoo.com. Bagi penulis yang karyanya dimuat, mohon maaf kami belum bisa menyediakan honorarium.Gak dibiayain Ford sih. Ha ha ha.